Mengantar Bantuan, Menyasar Kejauhan

“Wah, masih jauuh! Dari sini ambil kanan, nanti luruuuus terus, ketemu pertigaan ke kiri. Terus masih lurus lagi. Nanti tanya orang aja lagi di sana,” seorang lelaki paruh baya menjawab pertanyaanku dengan cepat.

“Masih jauh boi,” itu suaraku ketika sudah masuk kembali ke dalam mobil.

Warga menurunkan barang bantuan dari mobil. (Foto: Kandi)

Warga menurunkan barang bantuan dari mobil. (Foto: Kandi)

“Udah tau gue, kedengeran kok jawaban bapak itu dari sini. Kayaknya emang jauh banget ya.” Dan kami terbahak.

Saat itu jam tanganku berada di angka 17.00 WIB, sudah  2,5 jam sejak kami meninggalkan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kereta jurusan Bogor-Jakarta Kota yang mogok mengawali langkah panjangku menuju sebuah dusun untuk mengantar sumbangan bagi korban banjir. Hasil dari urunan kami sendiri dan sejumlah teman.

Kata “jauh” yang disebut teman perjalananku sebelum kami berangkat masih aku cerna sebagai sebuah tujuan yang hanya memakan waktu 2-3 jam berkendara dari Jakarta. Tapi mengingat kami sudah menghabiskan waktu 2,5 jam dan belum ada tanda-tanda akan segera sampai, aku segera mengingat kelakar seorang teman lainnya saat tadi memindahkan bantuan dari dua mobil sedan ke sebuah minibus yang kami gunakan menuju lokasi.

Salah satu jalan gelap yang harus kami lewati menuju Muaragembong, Kabupaten Bekasi. (Foto: Kandi)

Salah satu jalan gelap yang harus kami lewati menuju Muaragembong, Kabupaten Bekasi. (Foto: Kandi)

“Gue saranin sih lo pada beli cemil-cemilan dulu, karena nanti lo baru pada sampe sana pas adzan Isya,” itu suara Andre, tertawa.

Kami ikut tertawa, tanpa sedikit pun berencana mampir membeli cemilan.

Bantuan berupa pakaian layak pakai tak terhingga banyaknya, pembalut wanita, pampers bayi, sabun, mi instan, air mineral, pakaian dalam perempuan, selimut, mukena, obat-obatan, makanan serta biskuit bayi, menyesaki mini bus pinjaman. Yang kami tuju adalah Muaragembong, sebuah lokasi di Kabupaten Bekasi. Aku belum pernah mendengar wilayah ini sebelumnya.

Makin lama jalan terasa makin panjang. Makin jauh berkendara, makin jauh rasanya tujuan kami. Lebih dari lima kali kami turun naik mobil untuk bertanya, hingga sampai pada sebuah perempatan besar.

“Masih lurus terus. Satu jam lagi sampe,” seorang tukang ojeg menjawab pertanyaanku. Saat itu waktu menunjuk angka enam sore lewat sedikit. Terbahak lagi. Kemudian hening ketika jalan mulai berbatu, becek, dan tak karuan. Di kanan kiri hanya ada jalan setapak, pepohonan tinggi, sawah, rumah warga dengan jarak berjauhan. Lantas gelap. Hanya lampu jauh mobil yang mengiringi perjalanan kami ke RT 03 RW 06, Desa Pantai Bakti, Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

Waktu tempuh kami di jalan berbatu itu hanya 10 kilometer per jam. Belum ada tanda-tanda jalan berbatu dan becek akan berakhir. Satu jam kemudian, kami masih belum melihat ada plang “Telkom” apalagi “kecamatan” seperti yang disebutkan seorang warga di sana yang kami telepon.

Seorang warga mengeluarkan barang bantua dari dalam mobil. (Foto: Kandi)

Seorang warga mengeluarkan barang bantua dari dalam mobil. (Foto: Kandi)

Kaca mobil dibuka, ingin rasanya melompat keluar meregangkan kaki yang kaku. “Bang, kalo Kecamatan Muaragembong masih berapa jauh lagi ya?” aku bertanya.

“Masih lumayan, Teh. Masih ada tujuh kiloan. Masih sejam lagi lah. Jalanannya begini soalnya,” seorang pemuda tengah bermain gitar di tengah gelap.

“Oke Bang. Terima kasih ya.” Jendela kembali menutup.

Kembali tertawa. Jam 19.00 WIB, perjalanan dilanjutkan. Semakin jauh, jalan makin rusak. Sekitar pukul 20.15 WIB kami baru benar-benar tiba di tempat tujuan. Rute yang tidak bersahabat tak perlu diingat.

Kami bertemu Samsul Bahri, akrab disapa Samba. Dia adalah seorang guru di SD Pantai Bahagia 04, Muaragembong. Bang Samba ini yang kami kontak untuk mengantar bantuan. Tidak lama kami di sana, hanya sekitar 30 menit. Cukup untuk mengosongkan minibus, meregangkan otot paha (hhahahah), dan memindahkan bantuan ke kapal kayu besar. Kapal kayu yang digunakan warga untuk menyeberangi Kali Citarum.

Dari perbincangan sepintas kami dengan warga setempat, termasuk Bang Samba dan Pak Saleh, Ketua RT 03/04, ada tanggul yang sedianya dikerjakan oleh sebuah perusahaan infrastruktur. Tetapi pembangunan tanggul yang baru mencapai 20% tersebut ditinggalkan dengan alasan kontrak habis pada akhir Desember 2013.

Perusahaan infrastruktur yang cukup ternama di ibukota tetapi dengan mudah meninggalkan pekerjaan di sebuah dusun berjarak sekitar 70 kilometer dari Jakarta. “Yang udah jadi aja rebah lagi tuh tanggulnya. Sementara tanggul manual yang dibikin warga untuk mencegah air masuk udah diratain karena mau bangun tanggul dari perusahaan itu. Ini tapi belum selesai,” kata Bang Samba.

Setelah bantuan berpindah tangan, kami segera pamit pulang. Bang Samba menawarkan diri untuk mengantar sampai jembatan pertama. Aku tidak tahu jembatan dimaksud. Karena rute pulang kami berbeda. Jam 21.00 WIB.

Jembatan pertama itu ternyata memakan waktu tempuh sampai 30 menit, dengan jalan yang juga rusak. Tidak jauh berbeda dengan jalan pertama, tetapi kondisinya lebih mendebarkan karena di kanan kiri kami hanya ada tambak, rawa, dan sungai kecil.

Setiap jarak tertentu kami dapati plang Pertamina yang menerangkan bahwa jalur tersebut merupakan aset penting bagi negara. Aset penting tapi sama sekali tidak memikirkan keselamatan dan keamanan warga setempat milik Pertamina. Sebuah badan usaha kaya yang direksinya bisa foya-foya dan memanjakan wartawan untuk sekadar bersenang-senang. (*)

Senin, 3 Februari 2014

*Semoga cerita ini berguna untuk teman-teman yang sudah mendonasikan barang maupun uangnya bagi korban banjir melalui saya dan Viny*

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *