Setumpuk Cerita Sang Sopir Taksi

Jam 5 pagi aku meninggalkan rumah hari itu, akhir Mei 2015, bertolak ke bandara menuju Medan, Sumatera Utara. Sopir taksi yang aku tumpangi sangat ramah dan sepertinya punya setumpuk cerita untuk dituturkan kepadaku.

Sambil terkantuk-kantuk, sesekali aku menimpali ceritanya hanya dengan sekadar “Oh” atau “Iya” dan lebih banyak tertawa. Untuk mengimbangi percakapan, aku bertanya iseng tentang sudah berapa lama dia menjadi sopir untuk taksi ini. Dia jawab, dua tahun belakangan ini dia baru membawa lagi taksi, setelah sebelumnya mengendarai taksi yang sama selama puluhan tahun.

Aku lantas tertarik, “Kenapa balik lagi bawa taksi ini Pak?”

“Di sini enak sih Mbak. Aturannya memang ketat dan tolak ukur utama kita ada di kejujuran dan pelayanan buat tamu,” dia menjawab sambil mengurangi kecepatan taksinya yang sudah melewati 100 km per jam.

Foto: Ilustrasi lalu lintas di Jakarta. (kandi)

Foto: Ilustrasi lalu lintas di Jakarta. (kandi)

Jalan tol yang mulus memang kerap membuat pengendara tak sadar bahwa kecepatannya sudah melewati ambang batas maksimal.

“Contohnya ini Mbak. Kalau kecepatan kita sudah lebih 120 km per jam, pasti dari kantor ada yang ingetin kita. Kalau driver masih bandel juga, nanti dipanggil pas pulang,” tuturnya.

Setiap orang yang kembali ke profesi lama atau ke kantor sebelumnya pasti punya alasan sendiri. Aku selalu berminat mendengar dan mencari tahu alasan itu. Kalau ke profesi yang lama, aku pun iya. Tetapi ke kantor sebelumnya, rasanya agak aneh meski beberapa orang yang aku kenal melakukan itu.

Taksi terus melaju sementara sang sopir semakin semangat bercerita. “Misal ada barang tamu ketinggal di taksi nih Mbak, dan sopirnya enggak ngaku, bisa dijebak Mbak sama kantor,” katanya.

Suatu hari ada tamu yang menelepon ke kantor taksi dan mengatakan bahwa ponselnya tertinggal. Sayangnya, si tamu lupa nomor pintu taksi dan nama sopir. “Tapi kantor bisa melacak Mbak karena tamunya ingat dia naik taksi jam berapa, dari mana dan tujuan ke mana. Karena setiap pergerakan taksi kami ini kantor tahu semua,” ceritanya masih dengan semangat yang sama.

Setelah data yang disampaikan penumpang tadi cocok dengan data pergerakan taksi yang ada di kantor, pihak perusahaan menanyakan keberadaan ponsel itu kepada sang sopir. Tapi si sopir membantah ada ponsel yang tertinggal dan dia mengaku tak menemukan apa-apa. Karena tak punya bukti, perusahaan juga tidak bisa mengambil sikap apapun kepada si sopir.

Namun perusahaan menandai si sopir dan memastikan bahwa dia memang benar-benar jujur tak pernah menemukn ponsel tertinggal di taksinya.

“Akhirnya dites Mbak. Ada orang kantor naik ke taksi itu di hari lain dan sengaja ninggalin handphone-nya di taksi. Ketika ditanya lagi sopirnya enggak ngaku, orang kantor ini langsung bilang bahwa dia sengaja ninggalin handphone. Udah enggak bisa ngeles lagi tuh Mbak. Dipecat.”

“Wah, keren,” komentarku.

Tapi ceritanya belum berhenti sampai di situ. Kata sang sopir, bos besar perusahaan taksi ini kerap menyamar sebagai sopir di sejumlah lokasi yaitu Cilandak Town Square, Plaza Indonesia, dan bandara. Alasannya: dia ingin mendengar sendiri cerita dari pelanggan taksi miliknya atas pelayanan yang diberikan para driver.

Salut! Bagiku hal ini menarik. Ketimbang hanya mendengar saja cerita dari bawahan tanpa mengecek langsung ke lapangan.

Kami sudah hampir sampai di pintu keluar tol ketika cerita dari Pak Sopir ternyata masih belum habis. “Sering ada razia Mbak buat driver. Dan kantor enggak peduli kalau sopir yang kena razia itu lagi bawa penumpang atau enggak,” tuturnya.

Menurut si bapak sopir, hal-hal yang dirazia adalah soal kelengkapan berkendara dan kerapian berpakaian. Di antaranya harus memakai seragam dinas dari kantor, membawa kartu identitas sebagai sopir taksi yang masih berlaku, dan memakai sepatu serta kaos kaki.

“Pernah ada sopir yang enggak pakai sepatu, kena razia. Langsung dipecat di tempat dan dikasih ongkos pulang Rp 200 ribu. Penumpang dipindah ke taksi lain yang emang udah ada di lokasi razia. Penumpang enggak perlu bayar argo sebelumnya, jadi bayar pakai argo yang baru.”

Bagi pemilik perusahaan taksi itu, kejujuran dan menjaga kualitas pelayanan bagi para penumpang adalah investasi utama dalam menjalankan bisnis. Yang tidak sesuai dengan visi dan misi perusahaan langsung dikeluarkan dari barisan karena akan merusak sistem dan menurunkan kredibilitas perusahaan yang sudah dibangun dengan susah payah.

Apapun bidang usaha yang digeluti, rasanya cara berinvestasi dan berbisnis ala perusahaan taksi ini patut ditiru. Tapi ngoomong-ngomong, kapan aku punya perusahaan sendiri? :)

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *