Menulis Tokoh Pers: Jurnalis Perintis Bangsa

MENU makan siang di warung nasi belakang rumah ibu saya hari ini agak kering. Antrean cukup panjang, semua laki-laki yang baru pulang sholat Jumat, kecuali saya tentu saja.

Setelah selesai melayani empat pelanggan, pemilik warung menoleh, “Makan apa, Mbak?”

“Nasinya setengah, ayam, telur bulat, sambel,” aku menyahut cepat.

Lapar. Belum sarapan. Lebih tepatnya, sedang malas sarapan kecuali dua gelas air putih dicampur perasan jeruk nipis.

Setengah porsi nasi putih panas beserta dua lauk saya kunyah dengan cepat. Ini adalah hari kedua saya masuk kerja pekan ini, setelah cuti tiga hari, dan sebelumnya sakit tiga hari. Iya, sakit. Sakit.

Di kepala saya berkelebat banyak hal, tapi yang paling memupuk semangat adalah rencana menulis soal tokoh pers: jurnalis perintis bangsa. Kira-kira begitu. Bisa saja berubah kalau ada tema umum yang lebih menarik.

Suami saya menyambut baik ide menulis tema ini. Katanya, wartawan di zaman itu memiliki posisi tawar yang cukup tinggi dan benar-benar mengambil peran penting dalam kehidupan bernegara.

“Bergengsi” kalau kata teman saya.

Ilustrasi menulis. Saya sudah menulis soal Jusuf Ronodipuro, jurnalis pemberani yang menyiarkan kepada dunia tentang proklamasi Indonesia. Tetapi agak mengecewakan karena hanya bermodal riset seadanya. Benar-benar seadanya.

Usaha untuk tidak menjadikan artikel itu seadanya sebenarnya sudah saya lakukan. Tetapi gagal. Saya malas menceritakan alasannya. Hanya Endang Prih, teman seperjalanan saya, yang tahu rasanya. Ah, sudahlah.

Bulan depan ini, Februari, saya sudah mendapatkan satu nama untuk ditulis. Wartawan juga. Tokoh pergerakan di saat negeri ini belum jadi juga. Namanya masih saya rahasiakan. Kejutan.

Yah, semoga menjadi kejutan. Semoga juga bukan hanya sekadar riset lemah dan dangkal. Saya ingin mendatangi mereka yang masih punya hubungan kekerabatan maupun pertemanan dengan tokoh yang ingin saya tulis. Minimal membaca bukunya.

Menjelang sore tadi saya sudah menelepon ke Center for Strategic and International Studies (CSIS) menanyakan cara mendapatkan buku yang pernah diterbitkan lembaga ini tahun 1950-an. Seorang bagian publikasi yang ramah bernama Mas M menyambut baik permintaan saya.

“Saya tahu buku itu, tetapi sepertinya sudah tidak ada edisi cetak. Saya kabari hari Senin ya,” katanya di ujung telepon.

Ah, terima kasih. Mau diusahakan saja saya sudah cukup senang. Buku dari CSIS itu opsi pertama. Jika hari Senin tidak sesuai harapan karena bukunya tidak bisa saya dapatkan, saya sudah punya cara lain. Menyenangkan sekali rasanya.

Ayo semangat menulis!

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *