Merayakan Ulang Tahun John Grisham

BELAKANGAN saya resah ketika melirik profil sejumlah penulis favorit. Menghitung mundur lantas menjadi kebiasaan saya hari-hari ini, terutama setelah usia saya melewati angka 30, tahun lalu.

Puncaknya adalah setelah tak sengaja menemukan koran sehari setelah terbit yang menarik minat saya, 10 September 2015. Saya masih ingat persis tanggalnya karena artikel itu saya potret dengan ponsel mahal fasilitas kantor.

Judulnya bikin melongo, jika bukan nelangsa karena iri: Dari Pasar Loak ke Frankfurt Book Fair.

Artikel itu menceritakan konsistensi Anton Solihin, pemilik perpustakaan Batu Api di Jatinangor yang mulai dia gagas tahun 1999. Lantas saya menghitung mundur usianya.

Anton lahir tahun 1968, berarti saat dia pertama kali memulai kesetiaannya pada Perpustakaan Batu Api, usia dia 31. Anton urusan lain dalam artikel ini karena saya juga sudah lama merasa resah sekaligus jatuh cinta pada John Grisham.

Tayangan HBO memutar film The Rainmaker yang dibuat berdasarkan novel John Grisham. (Kandi)

Tayangan HBO memutar film The Rainmaker yang dibuat berdasarkan novel John Grisham. (Kandi)

Tahu berapa usianya saat pertama kali menulis novel A Time to Kill yang lantas membuatnya menjadi begitu ternama? 29 tahun!

Novel pardana itu mulai dia tulis tahun 1984—diselesaikan dalam waktu tiga tahun dan satu tahun kemudian pada bulan Juni diterbitkan, setelah berkali-kali ditolak sejumlah penerbit.

A Time to Kill adalah permulaan, selanjutnya Grisham tak terhenti, menerbitkan The Firm, dan menjadi “hot property” di antara penerbit hingga hak bukunya dibeli oleh Doubleday.

Dua novel itu diikuti karya-karya lainnya yaitu The Pelican Brief, The Client, The Chamber, The Rainmaker, The Runaway Jury, The Partner, The Street Lawyer, The Testament, The Brethren, A Painted House, Skipping Christmas, The Summons, The King of Torts, Bleachers, The Last Juror, The Broker, Playing for Pizza, The Appeal, The Associate, The Confession, The Litigators, Calico Joe, The Racketeer, Sycamore Row, dan Gray Mountain.

Dari rentetan novel itu, yang sudah saya baca belum seberapa, hanya 12: The Firm, The Pelican Brief, The Client, The Runaway Jury, The Testament, The Last Juror, The Appeal, The Associate, The Litigator, The Confession, The Innocent Man, dan The Street Lawyer. Yang saya sebut terakhir adalah karya Grisham pertama yang saya baca.

Sejak pertama kali membaca Pengacara Jalanan itu, saya langsung tergila-gila. Sepanjang membaca novel, belum pernah saya menemukan yang sekeren karya Grisham.

Pernah saya terpingkal-pingkal pada dini hari saat membaca novelnya, lebih sering tegang, beberapa kali mendadak merinding, tak jarang ikut marah mengaitkan ceritanya dengan kebijakan negeri sendiri, dan paling kerap berdecak kagum.

Grisham dilahirkan hari ini, 8 Februari, 61 tahun lalu di Jonesboro, Arkansas. Novelnya sudah dicetak sebanyak lebih dari 300 juta kopi di seluruh dunia dan diterjemahkan ke 40 bahasa.

Reputasinya sebagai “master of the legal thriller” tak dapat disangkal. Karyanya mentereng bukan hanya karena berhasil memainkan emosi pembaca dan menyusun deret kata yang memesona, tetapi juga karena moralitas yang dia tinggalkan pada setiap novelnya begitu membumi dan mengenai sasaran.

Bagi saya, moralitas adalah kunci utama yang membuat saya jatuh hati pada karya Grisham. Kritik pedas yang dia lontarkan lewat novelnya mengingatkan saya pada sebuah judul buku: Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara karya Seno Gumira Ajidarma.

Grisham bicara tanggung jawab negara, kritik terhadap penegakan hukum, dan rendahnya moralitas pejabat culas, serta kebijakan yang tak ramah pada kaum susah, lewat karya sastranya yang gemilang. Kecuali novel The Innocent Man yang entah kenapa belum tuntas saya baca, 11 karya lainnya yang saya lahap membuktikan penilaian saya.

Saking beken karya Grisham, dari ratusan juta yang dicetak, sembilan judul novelnya difilmkan yaitu The Firm, The Pelican Brief, The Client, A Time to Kill, The Rainmaker, The Chamber, A Painted House, The Runaway Jury, dan Skipping Christmas.

Di antara judul film itu, baru dua yang saya tonton yaitu The Rainmaker dan The Pelican Brief, itu pun baru-baru ini setelah tanpa sengaja melongok ke tayangan HBO, 26 Januari lalu.

The Rainmaker diperankan oleh Matt Damon yang berperan sebagai Rudd Baylor, seorang lulusan University of Memphis State Law School. Selain aksi Baylor di pengadilan sebagai pengacara muda, moralitas khas karya Grisham sangat kentara dalam film ini ketika dia menangani sebuah kasus bukan hanya untuk karier tetapi juga mengikuti nurani.

Kepada mereka yang menjunjung tinggi moralitas, dengan cara mereka sendiri, saya memang terkesima. Terutama kepada Grisham decak kagum saya tak akan pernah habis.

Selamat ulang tahun, Om Grisham. Teruslah menginspirasi hingga akhir waktu.

Saya? Saya sedang merayakan ulang tahun Om dengan membaca kembali novel-novel yang saya punya. Semoga novel ini, pada akhirnya, benar-benar menginspirasi saya untuk menulis lebih serius. Semoga.

12 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *