Yang Mengaku Aktivis

Aktivis kampus memang bukan malaikat yang suci dari kesalahan dan kealpaan. Saya juga pernah mengalami masa-masa tersulit selama berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan kampus. Tak jarang pula saya merasa terlalu letih dan enggan melangkah. Tapi tentu itu bukan sebuah jawaban atas pertanyaan sekian banyak orang yang memercayakan amanah sebuah kepemimpinan. Pada dasarnya, semua orang–pasti, terlalu muak dengan slogan kosong. Punya mimpi manis tapi tak mau diraih. Mereka berkelit bahwa mereka tidak bisa. Padahal mereka memang pecundang yang selalu berlindung di bawah kelemahan. Belumlagi permakluman-permakluman dari orang lain bahwa itu adalah hal biasa dan menusiawi.

Sebenarnya, kalau semua paham bahwa kemanusiaan seseorang justru dibuktikan dengan komitmennya terhadap janji yang kadung keluar dari mulutnya, mereka pasti tak akan mengeluh. Yang model begitu seolah menggambarkan kedirian dengan pernyataan tak langsung bahwa hanya mereka yang manusia, yang lain bukan. Sehingga cuma mereka saja yang pantas dihargai. Padahal juga kalau kita semua mengakui, tak ada seorang pun yang ingin selalu mendengar orang yang berkeluh kesah. Tak seorang pun! Tapi akhirnya banyak dari mereka yang di mulutnya hanya keluhan. Tak ada lain! Seakan kehabisan kata selain keluhan!

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *