Saatnya Mengkhayal

Kebiasaan buruk menjelang akhir tahun lagi-lagi muncul di benak saya. Mengkhayal yang keren-keren tentang melanjutkan sekolah, punya bisnis sendiri, enggak kerja lagi sama perusahaan orang lain, hingga menikmati akhir pekan yang tentram di rumah.

Soal melanjutkan studi, saya yang pernah menyia-nyiakan kesempatan emas—yang pasti enggak bakal datang dua kali—ini mulai lagi belagak antusias sama Belanda dan Finlandia. Derajat mimpi mungkin bisa setingkat lebih tinggi, tapi kalau mengkhayal seperti yang kerap saya lakukan, nampaknya murahan sangat.

Iseng, saya sudah menghitung lho biaya yang harus saya keluarkan kalau kuliah journalism di Groningen. Sekitar 33 ribu euro untuk biaya kuliah dan tempat menumpang tidur.

Direalisasikan? Belum tentu.

Kalau khalayan tentang studi di Finlandia, agaknya University of Tampere menarik. Asli kalau cuma riset-riset doang mah saya sudah khatam.

Mulai dari riset persyaratan beasiswa, baca-baca blog orang yang berhasil keluar dari khalayan mereka dan studi di luar negeri, sampai hal detail soal kampus, jurusan, tempat tinggal, makanan, transportasi, kafe yang asik buat kongkow, lengkap.

Realisasinya? Lebih sering nol besar. Ups!

Urusan studi satu soal. Khalayan tingkat tinggi lainnya adalah punya bisnis sendiri.

Sejujurnya saat ini saya sedang merintis. Tapi enggak usah dibongkar dulu di sini karena belum ada apa-apanya.

Yang pasti hal yang saya kerjakan itu masih di bidang jurnalisme dan komunikasi. Bidang yang sudah saya geluti mulai menjelang akhir kelas 3 SMK. Setidaknya hingga saat ini, mengisi kesibukan ini membuat saya agak waras dari kejenuhan sebagai editor di media online keren.

Tempat saya kerja sekarang keren asli. Tapi masalahnya saya jenuh jadi editor. Setiap hari lebih sering mengedit artikel reporter, lebih menyedihkan lagi karena belakangan lebih banyak berurusan dengan hal-hal administratif.

Hal menyenangkannya adalah, saya jadi punya belajar tentang manajerial. Mengurusi orang-orang lengkap dengan segala karakter, emosi, kritik, dan sarannya. Asik, tapi lagi bosan.

Dan semakin bertambah usia, saya merasa sudah harus memutuskan: kapan mau serius mengambil risiko menjalani bisnis sendiri?

Target pribadi saya, yang sudah saya bicarakan dengan suami, di usia 35 tahun saya sudah tidak mau lagi bekerja di perusahaan orang lain. Saya mau menjalani bisnis saya sendiri, sesuatu yang saya sukai dan sesuai minat.

Semoga.

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *