Resolusi di Tahun Investasi

Memutuskan kuliah lagi saya lakukan dengan penuh drama. Sebenarnya enggak drama queen juga sih, tapi pelik banget ketika harus menjawab sendiri pertanyaan: kuliah lagi biar apa? Lantas setelah kuliah lagi, mau ngapain?

Sampai akhirnya keputusan itu harus diambil dan saya mengundurkan diri dari pekerjaan, Juni 2017, dua pertanyaan itu belum terjawab. Pun hingga semester 1 kuliah berakhir 27 Desember lalu, dua soal itu juga tak terjawab.

Keputusan kuliah lagi saya pilih bukan karena tahu jawaban dua pertanyaan tadi, melainkan karena merasa stuck dengan pekerjaan saat itu. Saya kira, saya enggak akan bosan dengan profesi yang saya cita-citakan sejak masa SMP. Tapi ternyata bosan itu datang juga. Ketika itu, dan masih sampai hari ini, saya ‘tak punya perasaan apa-apa’ dengan profesi itu. Agak aneh, karena saya pernah merasa kehilangan ketika sempat tak menekuni profesi itu.

Sampai saat ini, saya merasa mungkin suatu saat nanti perasaan rindu dengan rutinitas sebagai jurnalis akan kembali. Tapi sekarang ini, yang saya pikirkan adalah secepatnya menuntaskan studi magister sehingga tak perlu berlama-lama ‘berinvestasi untuk pendidikan’ ini.

Saya memang menganggap tahun 2017-2018 adalah tahun investasi. Karena di tahun tersebut, uang tabungan saya sepenuhnya dipakai untuk hal-hal yang saya harap hasilnya bisa dipetik seusai 2018. Selain kuliah, saya juga ingin belajar menyetir mobil, les berenang, dan yang terpenting adalah melakukan riset kecil untuk benar-benar menerbitkan buku (pertama) saya. Semoga saja.

Untuk kuliah, saya menghabiskan Rp15 juta per semester, belum termasuk uang kos Rp1 juta per bulan, ongkos pulang pergi Depok-Bandung setiap pekan, uang makan, beli buku, dan pengeluaran lain.

Investasi untuk Kedai Aksara juga cukup lumayan. Saya tidak menargetkan agar pada tahun pertama langsung mendapat untung besar. Bisa melanjutkan bisnis ini di tahun selanjutnya tanpa mengeluarkan modal lagi saja, bagi saya itu sudah cukup sebagai awal. Pada tahun kedua, saya yakin investasi ini akan mulai menunjukkan hasil.

Ngomong-ngomong belajar menyetir mobil, saya sudah menghubungi abang saya, yang berbeda dengan kebanyakan orang, dia menyarankan saya belajar mulai dari mobil matic saja. Dia memang agak unik, tapi saya ikut sajalah apa kata yang mengajarkan. Saya akan memulainya besok, 4 Januari 2018, dengan mobil pinjaman.

Les renang? Kira-kira di mana saya bisa ikut les renang yang khusus untuk perempuan di Depok? Adakah yang punya rekomendasi? Saya berharap, sebelum kuliah semester 2 dimulai, saya sudah bisa renang sehingga punya alternatif olahraga lain selain mengelilingi Gasibu jogging track di Bandung.

Menulis buku adalah yang paling mengganjal pikiran saya. Di antara menulis, perasaan yakin dan tidak  yakin datang silih berganti. Terkadang ketika bangun di pagi hari, saya sadar bahwa konsep dalam buku itu adalah sebagaimana yang saya inginkan ada dalam sebuah buku. Tapi ketika senja datang, dalam di antara kelelahan mengetik, saya merasa semua itu sia-sia. Namun merasa sia-sia itu tak menghentikan saya untuk tetap mengetik. Biar sajalah orang yang menilai hasilnya kelak.

Salah satu quote yang memotivasi saya untuk tetap menulis, meski kadang merasa sia-sia adalah ucapan Toni Morrison—penulis Afrika-Amerika yang meraih Pulitzer pada 1988, “If there’s a book that you want to read, but it hasn’t been written yet, then you must write it.(*)

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *