Kelakuan Ajaib Warganet di Facebook

Sesekali posting yang santai gini seru kali ya. Namanya juga media sosial, yah sudah pasti jadi tempatnya orang bersosialisasi. Ada empat kelakuan ajaib di Facebook, yaitu ngotot soal politik, merasa paling benar, selalu bicara tentang diri sendiri, dan selfie tiap saat.

Ada yang buka akun media sosial untuk cerita soal keseharian mulai dari finansial, anak, urusan rumah tangga, bicara politik, kritik sosial, hanya untuk pamer ketika traveling, atau bahkan mengunggah penampakan mukanya saban waktu. Bagi saya, bebas sih mau ngapain aja di media sosial, asal enggak mengganggu dan merugikan orang lain.

Sementara saya, kalau pun keganggu dengan aktivitas di jejaring pertemanan di media sosial, biasanya saya unfollow. Saya bukan tipe orang yang rela buang-buang energi untuk ‘bersosialisasi’ dengan tipikal-tipikal yang saya anggap ajaib gitu. Jadi enggak akan menunggu waktu lama, pasti saya tinggal. Dari pada dari pada, ya kan?


Meski dianggap sebagai media sosial yang enggak kekinian lagi jika dibandingkan dengan Instagram, saya masih lebih suka aktif di Facebook. Karena di Facebook, aktivitasnya enggak cuma ‘pamer’ foto atau video, tapi juga bisa melakukan hal lainnya. Di Facebook, juga paling enak untuk unfollow akun, karena kita masih tetap bisa berteman dan jadi yang di-unfollow enggak tahu kalau kita udah enggak mau tahu lagi tentang hidup dia. Hihi.

Akun warga internet (warganet) yang saya unfollow itu—meskipun orang-orangnya saya kenal atau pernah ada di lingkungan yang sama—biasanya saya ’tinggalkan’ karena menurut saya mereka ajaib. Seajaib apa?

Ngotot Soal Politik

Enggak mau kalah dan cenderung memaksakan pendapat agar diterima orang lain, menurut saya, adalah salah satu karakter yang paling mencolok di media sosial. Biasanya warga-warganet ini ngotot soal politik. Apalagi kalau dia sudah punya kecenderungan membela politikus tertentu. Ya ampun, ngaruh juga enggak sama hidup dia kalau politikus itu terpilih jadi kepala daerah,  presiden, atau anggota dewan.

Foto: Pixabay

Foto: Pixabay

Yang paling ajaib adalah, mereka juga punya kecenderungan menghakimi bahwa, milsanya, jika saya mengkritik Presiden Joko Widodo berarti saya mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan sebaliknya. Padahal, mengkritik Jokowi tidak ada kaitannya dengan menjadi pro Prabowo dan tentu saja sebaliknya. Mengkritik Jokowi ya mengkritik Jokowi. Kalau saat itu tidak mengkritik Prabowo, bukan berarti pro juga, cuma belum ada aja hal yang membuat Prabowo harus dikritik.

Untuk mereka-mereka yang ngotot ini, mereka sudah punya penilaian sendiri. Penilaian yang biasanya enggak didasari logiak berpikir yang bisa diterima akal sehat. Mereka rata-rata sudah punya acuan dalam menilai. Misal, mereka yang menganggap semua yang dilakukan Jokowi benar dan mereka yang menganggap semua yang dilakukan Prabowo benar. Bagi pro Jokowi, semua yang diucapkan Prabowo salah. Sebalinya bagi die-hard fan Prabowo, semua pernyataan dan tindakan Jokowi salah. Makhluk kayak begini di Facebook, pasti saya unfollow.

Merasa Paling Benar

Poin ini hampir sama dengan “ngotot soal politik”. Tapi biasanya, mereka yang merasa paling benar ini bicara soal agama, yah yang sekarang sudah sering juga dikait-kaitkan dengan politik. Bagi mereka, cuma agama mereka yang benar. Padahal kalau pun iya, terus kenapa? Apa karena mereka yakin bahwa agama mereka paling benar, lantas orang lain harus dipaksa percaya dan ikut dengan keyakinan mereka juga? Kan enggak.

Saya menyukai sekali firman Allah SWT dalam surat Al Kafirun ayat 6 yang menyatakan, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Saya tidak pernah tertarik untuk masuk ke dalam perdebatan tentang agama, tapi hal ini jangan diartikan bahwa saya tidak membela agama yang saya yakini. Saya juga biasanya tak akan ikut ke dalam perdebatan atas isu yang di dalam Al Quran sudah jelas dinyatakan. Misal poligami. Atas isu ini, saya bukan orang yang akan bicara apakah poligami halal atau haram, karena sudah jelas dalam Islam poligami dibolehkan. Persoalannya adalah, bagaimana poligami itu dilakukan? Hal ini yang bagi saya, sering kali, sangat sering, salah diterapkan oleh mereka yang mengaku memahami dan bahkan mengajarkan agama, yang didukung oleh pengikut-pengikut garis kerasnya.

Tapi sekali lagi, saya tidak tertarik untuk ikut dalam debat kusir soal ini atau hal lainnya menyangkut agama. Saya sudah punya penilaian sendiri, dan biarlah hal itu ada di dalam benak saya sendiri. Mereka yang selalu merasa paling benar, pasti sudah tidak ada dalam timeline saya.

Semua tentang Dia

Makhluk jenis ini juga biasanya mengganggu kesenangan berselancar di jejaring sosial. Mereka adalah tipikal orang yang selalu komentar di hampir setiap status teman-teman mereka. Tapi yang ajaib, komentarnya biasanya bukan sekadar ucapan tertentu kepada penulis status, melainkan menulis cerita baru tentang diri dia sendiri.

Ketika penulis status bicara tentang bagaimana dia memberi makan anaknya, dia akan meninggalkan komentar dengan cerita bagaimana dia memberi makan anaknya sendiri. Kalau orang lain menulis soal cara mengelola keuangan, dia juga akan berkomentar tentang cara dia mengelola keuangan, yang sering sekali lebih panjang dari status teman yang dia komentari.

Ketika orang lain bercerita tentang dapur rumahnya dibuat terbuka, dia juga akan mengatakan bahwa dia melakukan hal yang sama dan hal-hal apa yang terjadi karenanya. Saat temannya berbagi kisah me time versi dia, maka orang jenis ini juga akan mengisahkan kebiasaan me time yang dia lakukan, dan lebih mendominasi.

Pokoknya, semua komentar dia atas status Facebook orang lain adalah tentang diaaaa melulu. Semua tentang dia. Ujung-ujungnya tentang dia. Seperti tak pernah cukup menceritakan semua hal tentang diri dia sendiri di akun miliknya sendiri, sampai-sampai di hampir semua komentar, dia bicara lebih banyak tentang diri dia sendiri ketimbang berkomentar normal di status orang lain. Bosen juga kali baca tentang situ melulu. Hih!

Foto Muka Setiap Saat

Selfie! Penemuan seperti ini pasti sukses bikin saya unfollow orang tersebut. Males enggak sih tiap kali buka Facebook, yang muncul adalah muka orang ini terus? Pagi-pagi, muka dia mau berangkat kerja. Menjelang siang, muka dia yang mulai lelah dengan setumpuk kerjaan di meja. Saat tengah hari, muka dia saat mau makan siang di kafe tertentu, dan ketika malam, muka dia sudah bersiap mau tidur.

Kalau pun enggak tiap hari, tapi dalam satu minggu, pasti ada masa di mana dia unggah-unggah wajahnya cuma dengan versi yang beda: satu kali senyum keliatan gigi, foto lainnya senyum tanpa kelihatan gigi. Yaelah!

Saat traveling, penampakan mukanya akan lebih sering dari hari biasa. Muka versi baru naik pesawat, versi menjelang landing, dan muka ketika tiba di bandara tujuan. Belum lagi foto mukanya di tempat-tempat tujuan wisata. Padahal ya, meski kita enggak berkali-kali unggah foto muka di tempat wisata, orang tahu kok kita lagi ada di sana hanya dengan sekali unggahan. Akan sangat membantu jika foto-foto selanjutnya adalah foto tempat wisata saja tanpa wajah kita mendominasi. Hihi.

Tapi boleh kok foto muka (doang) terus setiap hari, kan akun kita, jadi suka-suka kita. Cuma karena saya merasa terganggu, biasanya saya unfollow. Enggak ngaruh lah ya kalau cuma di-unfollow sama satu orang. :)

Omong-omong, selamat Hari Air Sedunia ya, guys! (*)

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *