Ketika Lari Berubah Gelap

Sore tadi saya olahraga lagi untuk pertama kalinya setelah bermalas-malasan sepanjang Februari-September 2018. Seperti biasa, saya aktifin aplikasi Runkeeper untuk tahu seberapa lama saya lari dan sejauh apa jarak tempuhnya.

Hal yang selalu saya lakukan adalah: pemanasan. Saya melakukannya 5-7 menit dan mulai berlari pelan. Saya pakai pola 50 detik lari dan 10 detik jalan, lupa baca di mana pola ini. Tapi asik dan cocok untuk saya.

Setelah 15 menit 56 detik melintasi jarak 1,64 km, saya berhenti dan tidak merencanakan untuk memperpanjang jangkauan lari.

Beberapa detik kemudian, kepala saya mulai berputar pelan. Saya pernah menghadapi situasi ini ketika pertama kali jogging lagi setelah sekian lama enggak melakukannya. Jadi saya santai dan duduk di kursi sekitar pedestrian Kebun Raya Bogor, lokasi lari saya sore tadi.

Putaran di kepala berangsur hilang setelah duduk sekitar 60 detik, dan saya kembali melangkah, berjalan kaki. Tapi ayunan kaki saya tak bertahan lama karena serangan pusing itu kembali datang, disertai pandangan mata yang mulai buram. Beruntung di pedestrian itu banya kursi, jadi saya kembali duduk.

“Aku perlu air minum,” saya meminta ke suami.

“Oke tunggu ya….”

“Jangan ditinggal, kepala aku muter, semuanya muter-muter ini….”

“Yah terus gimana dong sayang…,” suara suami saya mulai khawatir. Di pedestrian ini enggak ada tukang jual minuman keliling, harus menyeberang dulu.

“Ya ampun muka Kandi pucet banget, dan tangannya dingin. Aduh, gimana dong…,” dia bersuara lagi.

“Minta tolong sama orang coba, mata aku udah gelap banget, semuanya kabur dan muter-muter….”

Percakapan kami itu berlangsung dengan nada yang sangat pelan dan tempo lambat. Alhamdulillah saya tidak panik, mungkin terlalu lemah untuk merasa panik. Hanya bingung, kenapa kayak gini?

Jika baru memulai olahraga lagi, saya memang hanya melakukannya selama 15 menit, dan biasanya enggak ada dampak fisik berarti. Suatu waktu kepala saya pernah berputar dan diikuti mual, tapi hanya berlangsung beberapa menit. Biasanya saya merasa kenal dengan kekuatan fisik diri sendiri. Tapi sore tadi benar-benar mengejutkan.

Samar-samar saya lihat suami celingukan mencoba minta tolong, tapi sebelum dia sempat berucap, seorang pejalan kaki yang melintas menawarkan diri, “Biar saya yang jaga. Masnya cari minum aja. Kalau ada, teh manis anget ya.”

Perempuan, berhijab rapi, dia langsung memijat pundak saya.

Seorang laki-laki muda pengguna jalan lainnya yang juga sedang jogging berhenti, menanyakan keadaan saya dan apa yang bisa dia bantu. Entah apa yang dia lakukan selanjutnya, karena semua hal di hadapan saya menjadi sangat buram dan tak beraturan.

“Tarik napas dan buang pelan-pelan ya. Muka kamu pucet banget dan badan kamu dingin semua….” Suara pelan seorang perempuan terdengar sambil terus memijat pelan punggung saya.

Saya mengikuti anjuran itu sambil istigfar. Saya sama sekali tak merasa kesulitan untuk bernapas, tidak ada ngos-ngosan, tidak juga napas pendek-pendek. Alhamdulillah untuk itu, dan terima kasih Allah karena saya masih diberi ingatan untuk mengucap istigfar. Dalam hati saya juga terus meyakinkan diri untuk tidak memejamkan mata meski sangat ingin karena tak tahan melihat semesta berputar dan pandangan kabur, nyaris gelap. Nyaris.

runn
Selain ingin terpejam, saya juga sangat berharap bisa berbaring. Tapi tak terucap karena berbicara jadi hal yang sangat melelahkan tadi. Rahang saya seperti mengeras dan kaku. Lagi-lagi beruntung, karena perempuan baik itu menarik saya agar bersandar di badannya sambil terus memijat dan mengingatkan saya untuk menarik napas dalam-dalam.

Mungkin tak sampai dua menit, samar-samar saya melihat suami berusaha menyeberangi jalan. Mungkin warung kecil yang juga tampak kabur itu hanya menyediakan minuman botol. Pelan-pelan, suami saya mengangsurkan minuman itu, hingga beberapa teguk.

Waktu berjalan lambat, tidak yakin berapa lama, tapi pandangan saya mulai jelas, semesta perlahan berhenti berputar meskipun diselingi warna-warna redup. Badan dan tangan yang tadi sangat ringan, bisa saya rasakan keberadaannya.

Wajah suami yang berjongkok memegangi tangan saya mulai terlihat jelas. Tersenyum dipaksakan, kelihatan sangat bingung dan khawatir. Biasanya dia panik seperti kucing kelaparan (memangnya kucing kelaparan panik ya?).

Dia masih di sana, membantu seolah saya adalah teman lama yang baru bersua kembali. Ketika kekuatan entah dari mana muncul lagi, saya berpaling ke arahnya, “Makasih banyak ya Mbak. Makasih banyak….”

“Iya, sama-sama. Muka kamu pucet banget, badan kamu dingin, ini kemungkinan karena darah rendah. Muka pucet kayak gini biasanya darah masalahnya,” katanya.

“Biasanya aku gak masalah Mbak olahraga kayak gini, cuma emang udah lama enggak.”

“Mungkin badan kamu sekarang lagi gak fit, kecapekan, jadi kaget. Gak apa-apa kok. Kalo bisa, nanti langsung minum teh manis dan makan dulu ya. Minum Sangobion juga bagus.”

Ketika dia yakin saya sudah membaik, dia pamit. Berkali-kali ucapan terima kasih sepertinya enggak akan cukup. Kami cuma sempat menanyakan nama ketika dia hendak berlalu, “Aku Reni.” Senyumnya sangat tulus.

Terima kasih, Mbak Reni. Semoga segala kebaikan menaungi Mbak Reni dan keluarga. Terima kasih juga kepada suami saya yang bertahan dalam kepanikan.

Aplikasi Runkeeper sudah saya matikan ketika memutuskan berhenti berlari di menit ke 15 tadi, dan aplikasi yang sama saya aktifkan kembali ketika memulai “walking”. Ketika semua sudah membaik—meski belum benar-benar pulih—saya meraih ponsel dan melihat catatan waktu di sana: 25 menit 4 detik. (*)

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *