KELANA, Karya Sederhana yang Kaya Makna

Menebeng alias hitchhiking adalah tindakan yang tidak akan saya lakukan ketika bepergian, khususnya ke luar negeri. Membayangkannya saja saya tak berani. Betapa culunnya!

Saya enggan menduga-duga, apa rasanya menyeret-nyeret koper atau menggendong ransel, seorang diri, di negeri orang. Dengan bahasa yang belum tentu saya pahami, kebiasaan masyarakat setempat yang entah bagaimana, tempat yang begitu asing, tak ada satu pun yang dikenal.

Berdiri di tepi jalan, mengacung-acungkan ibu jari, menanti kemurahan hati pengendara mobil atau bahkan truk. Tapi, justru itulah yang saya dapat ketika ‘memulai petualangan awal’ saya bersama “KELANA: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika”.

Buku KELANA karya Famega Syavira Putri

Buku KELANA karya Famega Syavira Putri

Seperti buku-buku yang kebanyakan saya baca, karya Famega Syavira Putri itu juga tak saya baca mulai dari halaman 1. Saya mengawalinya dari Daftar Isi, dan mendapati Bagian 4 bertajuk “EROPA” di halaman 140. Di sanalah saya memulai, dan hanya butuh empat halaman untuk sampai pada ‘pengalaman’ hitchhiking itu. Menegangkan!

Ketika awal membaca “mungkin sudah saatnya saya mencoba menebang lagi”, saya kira Fame, begitu saya biasanya menyapanya, tak punya kekhawatiran sedikit pun tentang nebeng. Saya keliru. Dia ternyata juga agak takut, dan membeberkan kecemasannya dengan pertanyaan-pertanyaan sepanjang lebih dari separo halaman berikutnya.

Pertanyaan yang amat sangat wajar terlontar dari pikiran perempuan (atau bahkan laki-laki) mana pun yang bepergian sendirian dan berencana melakukan hal senekat menebeng. Saya berharap, keresahan menyimak cerita hitchhiking Fame segera berakhir, meskipun setiap baris kalimat di bukunya enak dibaca.

Fame berkelana hingga merasakan terombang-ambing dari satu tol ke jalan tol lainnya di Polandia, mengunjungi bekas kamp di Auschwitz, terjun payung seru di Praha, hingga tiba di Spanyol, negara yang amat sangat ingin saya kunjungi. Kisah tentang negara di Semenanjung Iberia ini saya baca berulang kali, hingga saya mengingat dengan baik fakta-faktanya. Terutama karena, satu-satunya kota yang ingin saya datangi di negara itu adalah: Barcelona!

Dari KELANA saya tahu bahwa masyarakat Barcelona tidak begitu suka dengan keberadaan turis yang berjejalan di kota mereka. Mural dengan tulisan “Turis, pergilah dari sini!” di Barcelona membuat saya sedikit merenung: apakah saya tetap ingin ke sana?

Tapi, saya juga mungkin akan merasakan hal yang sama dengan warga setempat jika Barcelona, kota kelahiran saya yang nyaman dengan populasi (hanya) 1,6 juta jiwa dipadati wistawan hingga 32 juta orang (2017). Betapa sesaknya.

Akan lebih menyenangkan jika membaca sendiri kisah-kisah menarik yang dituturkan Fame di KELANA. Bukunya ditulis dengan gaya bercerita yang asyik. Bisa jadi referensi buat (1) yang berencana traveling ke negara-negara yang dikisahkan Fame, maupun (2) buat kalian yang justru enggak ada rencana ke mana-mana. Karena buku ini sukses membuat kita merasa ada di sana, di setiap kota yang didatangi penulisnya.

Saya membawa-bawa buku ini setiap hari, dan menyimak halaman demi halaman dari atas kereta Stasiun Duren Kalibata-Sudirman, atau dari Halte Transjakarta Tosari ke Polda Metro Jaya. Untuk membaca Bagian “EROPA” saja, butuh waktu satu pekan penuh. Menikmati membaca KELANA, saya selalu tak menyadari bahwa tiba-tiba, saya sudah harus turun di stasiun atau halte tujuan.

Ada banyak makna dalam setiap kota yang dikisahkan, selain konteks sejarah, budaya, realitas sehari-hari, dan persoalan sosial, yang akan ditemukan di KELANA yang sederhana. Dari KELANA juga saya tahu, bahwa saya akan dan harus mengunjungi Al Andalus. Ingin merasakan sendiri syahdunya “menyaksikan matahari terbenam hingga cahaya terakhir berpendar di atas Granada dan Alhambra”. (*)

0 Shares

4 responses

  1. Ulasannya bagus. Saya juga pembaca Kelana dan takjub akan keberanian Famega untuk jalan sendirian di luar negeri. Setelah melihat peta dunia, ternyata itu jauuuh sekali. Tapi setelah pulang, kita jadi tahu, itulah nikmatnya perjalanan.

Leave a Reply to Adie Riyanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *