Dari Mas Adam Prawira, Saya Mempelajari Dunia Kerja Sesungguhnya

Tugas pertama saya sebagai jurnalis profesional dimulai di bidang hukum, dan itu membuat saya grogi tak berkesudahan. Saya belajar Sistem Hukum Indonesia dan satu mata kuliah lainnya pada semester-semester awal kuliah jurnalistik. Tapi itu hanya bagian terkecil dari bidang hukum yang sesungguhnya sampai saya ingin kabur begitu mendengar: mulai besok kamu liputan di sana ya.

Karena itu bukan pertanyaan untuk dijawab mau atau tidak, bukan pula tawaran yang bisa ditolak, saya (terpaksa) mengangguk mantap dan mengatakan: siap Bang! “Siap-siap dapat masalah,” kata hati saya kala itu, Agustus 2007.

Muntaber alias muncul tanpa berita, kebobolan informasi dan berita, sampai seperti merasa salah pilih profesi, saya rasakan pada masa awal menjadi reporter di Koran SINDO. Tapi beruntung, di antara sekian banyak orang baik yang saya kenal di kantor ini, Mas Adam Prawira adalah satu di antaranya. Kami mengisi halaman koran yang sama: Hukum & Politik. Lebih sering ketimbang tidak, hari-hari awal saya bekerja hanya menyusahkan seluruh tim halaman 8, terutama ketika saya benar-benar tidak mempunya satu kalimat pun untuk ditulis menjadi berita.

Tentu saja saya pernah ditegur redaktur sampai kena marah juga pernah (baca: sering). Tapi sesering itu pula Mas Adam membantu. Pada suatu hari tanpa berita, di antara banyak hari-hari semacamnya, Mas Adam berujar kepada redaktur: kasian anak baru diomelin melulu. Kayak pada gak pernah jadi anak baru aja. Udah, beritanya biar gue yang urus. Kandi makan dulu aja kalo belum makan.”

Bagi reporter baru seperti saya kala itu, bantuan sedemikian murah hati sangatlah berarti. Karena selain akan kena marah, saya sendiri pun terpuruk ketika tahu bahwa—bahkan setelah kuliah selama empat tahun, dengan nilai yang juga tidak buruk—ternyata saya tak bisa menghasilkan satu berita pun untuk koran. Menjalani kerja jurnalistik pada masa-masa awal itu sangat sulit buat saya, dan kebaikan hati serta bantuan konkret Mas Adam mendorong saya untuk terus bekerja dengan lebih baik. Tentu, tanpa mengabaikan bantuan rekan-rekan lain di koran tempat saya belajar banyak hal positif.

Lalu tadi malam, saya mendapat kabar dari Mbak Herita Endriana dengan pesan singkat: Kandi, Mas Adam meninggal.

Mas Adam yang selalu membantu kesulitan orang lain dengan senang. Mas Adam yang selalu punya solusi langsung tiap kali saya kesusahan menghubungi narasumber….

“Mas Adam, aku enggak punya berita. Ada yang bisa aku telepon enggak Mas?”

“Telepon aku aja, ntar aku angkat deh,” Mas Adam nyengir.

Saya membaca pesan dari Mbak Ita berulang-ulang meski yakin tidak salah baca. Pelan-pelan namun pasti—setelah sejumlah pesan lain masuk, baik yang mengonfirmasi maupun yang membenarkan—saya mulai diliputi kesedihan. Sambil berusaha menenangkan diri bahwa ini adalah takdir terbaik bagi Mas Adam, saya mengingat utang-utang kebaikannya yang belum sempat saya balas. Mas Adam yang baik pergi, tanpa saya sempat berkelakar lagi dengannya belakangan ini. Tanpa sempat saya menanyai kabar fans-fansnya yang pasti akan membuat kami kembali tertawa.

“Kandi, mau pulang kan? Yuk pulang bareng aku.”

“Ayo, Mas. Asik.”

“Alhamdulillah Kandi mau.”

“Emang kenapa?”

“Kalo aku pulang sendiri, bingung ngebalas lambaian tangan fans. Nanti Kandi tolong dadah-dadahin fans aku ya.”

Mas Adam tahu itu candaan yang garing, kami tahu, tapi siapa peduli garing atau tidak setelah seharian dikejar deadline? Kami menertawai kegaringan itu sambil menyusuri jalan menuju parkiran motor. Di kemudian hari, ‘fans Mas Adam’ ini selalu menjadi kalimat pembuka ketika saya bertemu dengannya, “Mas Adaaaam, fansnya masih suka dadah-dadah di jalan?”

“Makin banyak. Bukan cuma dadah-dadah, sekarang ngejar-ngejar juga.” *masih garing

Sejak mendengar kabar duka cita ini, memori kebaikan Mas Adam memantul-mantul di ingatan saya. Mengerjakan berita yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya, menawarkan boncengan motor untuk pulang, membela ketidakbecusan saya bekerja, tentu saja, membagi isu dan kontak semua narasumber yang sampai saat ini masih tersimpan di memori telepon.

Selamanya saya berutang kebaikan selama berinteraksi dengan Mas Adam. Tidak ada kebaikannya yang pernah saya bayar di masa lalu, dan saya berharap, entah dengan cara seperti apa, bisa membalasnya di masa depan. Hari ini, ada doa untuk mengantar kepergian Mas Adam bertemu Sang Pencipta, menuju surga-Nya. Doa juga untuk menemani kesedihan istri dan keluarga Mas Adam, semoga selalu dalam lindungan-Nya dan mampu melewati kedukaan ini dalam kondisi sehat walafiat.

Tiga tahun lebih bekerja untuk koran dan halaman yang sama, banyak hal penting yang saya pelajari, terutama karena saat itulah pertama kalinya saya memasuki dunia kerja sungguhan. Dan punya rekan kerja (senior) sebaik dan sepengertian Mas Adam membuat saya belajar, tentang sikap dan tindakan manusiawi. Untuk mencapai titik tertentu dalam pekerjaan, senior bukan berarti harus menindas junior, bahwa melihat rekan kita dimarahi bos bukanlah kabar baik bagi kita, dan tak ada masalah jika kita perlu berbuat lebih banyak demi teman.

Kata Soe Hok-gie, “Bagiku, ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda.” Dan Mas Adam, dengan kebaikan sepanjang hayatnya, menunjukkannya kepada saya, kepada kita.

Selamat menuju tempat keabadian, Mas Adam. Kebaikan Mas Adam akan mengalir ke surga-Nya, tanpa terputus.

**Suatu malam dalam ingatan saya yang samar-samar, “Mas Adam, aku diminta running ini.”

“Yaudah running aja, aku juga mau running….”

If you know what I mean….

0 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *