Eliot, Mencari Jalan Kebahagiaan

Mengagumkan!

Cerita dalam novel karya Erich Segal ini mengenalkan kepada pembaca, bagaimana seharusnya kita menuntun hidup kita sendiri untuk bisa bahagia, dalam arti yang sesungguhnya. Cara bertutur dalam novel ini sangat apik, apa adanya, dan memaksa otak kita mengingat banyak nama tokoh, tempat, peristiwa, dan hubungan antarsetiap tokoh. Agak rumit karena melibatkan banyak orang, namun, gaya penulisan yang santai dan sederhana, tidak membuat kita kebingungan.

TheClass

Inilah novel yang secara gamblang menceritakan bagaimana kehidupan di Universitas Harvard. Sebuah kampus yang telah melahirkan banyak tokoh besar Amerika Serikat, dan tentu saja dunia. Perjalanan para siswa dari sekolah persiapan sampai sekolah lanjutan. Perbedaan mencolok tentang asal sekolah itu juga menjadi perbincangan sendiri bagi masing-masing anggota kelas, demikian mereka menyebut setiap siswa yang akhirnya menjadi bagian dari kampus terbaik itu.

Serius, mengandung unsur intelektualitas tinggi, diselingi humor, dan ketegangan tertentu pada bagian ceritanya. Itulah gambaran ringkas tentang apa yang terjadi pada halaman demi halaman novel ini. Persaingan antaranggota kelas, mulai dari tingkat terendah hingga berakhir dengan situasi terburuk pun tak terelakkan. Setiap orang berlomba untuk menjadi yang utama dan pertama. Jika gagal, liang pemakaman, atau setidaknya rumah sakit jiwa, siap menampung jasad mereka. Tak sedikit mahasiswa yang ditemukan gantung diri atau mengonsumi obat-obatan mematikan karena tak menjadi bagian dari kelompok yang pertama dan utama itu.

Adalah Andrew Eliot, laki-laki sederhana yang ditakdirkan menjadi bagian dari keluarga yang selalu menciptakan sejarah dunia, adalah pemeran utama dalam novel ini. Andrew, yang merasa diri tak pernah punya ambisi untuk berprestasi, melihat sendiri bagaimana anggota kelas tahun itu, tumbang dan menang. Kebanyakan mereka, kalah oleh emosi yang tak mampu mereka kendalikan sendiri. Seperti pernyataan seorang teman Eliot, Jason Gilbert, “Tapi tekanan di sini memang bisa kejam sekali. Maksud saya, untuk mendapat nilai.

Tapi Eliot, tak pernah ikut bersaing dalam kompetisi itu. Dia berusaha hidup apa adanya dan tak pernah merasa besar karena tingginya derajat keluarga Eliot di mata Harvard khususnya. Hingga pernah suatu hari, Eliot berbincang dengan Profesor Samuel Eliot Morison, pria terhormat yang merupakan keluarga jauh Andrew Eliot. Kepada Morison, penerus generasi Eliot itu mengaku, “Sir, mungkin sebaiknya Anda tahu bahwa nilai-nilai saya tidaklah terlalu cemerlang. Mereka takkan pernah memberi kesempatan pada saya untuk menyusun disertasi.”

Dalam catatan-catatan hariannya, Andrew selalu merasa dirinya bukan siapa-siapa dan tak pernah berbuat apa-apa kecuali hal-hal remeh dalam kehidupan di kampus. Dia tak pernah berpikir dirinya akan menjadi bagian terpenting dari kehidupan orang-orang “hebat” di dunia di masa mendatang. Andrew selalu merasa cukup bangga dengan hal kecil yang sudah dilakukannya untuk orang lain. Padahal sesungguhnya, hal itu punya arti penting bagi orang yang ditolongnya. Andrew telah mengajarkan, menjadi berprestasi bukan berati berbahagia dan kehebatan bukan ukuran kebaikan.

Judul: The Class

Penulis: Erich Segal

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: Oktober 2007

Jumlah Halaman: 644

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *