Bra, dan Substansi Aksi (untuk Tukang Demo)

Tadinya saya sudah lupa menulis cerita ini. Cerita tentang mahasiswa yang belakangan aktif melakukan aksi demonstrasi.

Saya tak mengikuti perkembangan aksi di tempat lain, kecuali di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena di sanalah hari-hari saya habiskan. Dan, saya mulai muak menonton, dan mendengar orasi-orasi yang disampaikan perwakilan mahasiswa itu.

 

Entahlah, apa benar mereka mahasiswa? Tapi saya juga sebenarnya tak mau ketinggalan mendengar orasi-orasi itu. Saya hanya penasaran, apa yang mereka teriakkan, itu mereka pahami atau tidak. Dan, saya curiga mereka tidak tahu.

Saya ingat, beberapa kali mereka keliru menyampaikan substansi persoalan. Dengan bangga, dan merasa benar, si orator berteriak, “Kenapa, KPK tidak pernah menyentuh kasus-kasus korupsi yang nilainya ratusan juta, kawan-kawan? Padahal, meski nilainya hanya ratusan juta, tapi itu juga termasuk korupsi. Artinya, KPK tidak sungguh-sungguh mengusut korupsi, kawan-kawan!”

Dan pernyataan yang jelas tak mengandung pengetahuan itu disambut riuh rendah oleh para peserta aksi, yang wawasannya setali tiga uang dengan sang orator. Ini substansi yang kecil, dan bahkan sepele. Tapi soal itu saja mahasiswa itu payah.

Kalau mereka mau membaca, sebentar saja, mereka akan tahu bahwa Pasal 11 huruf c UU No 30/2002 tentang KPK menyebutkan, KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp1 miliar. Atau, sekadar menyebut nama lengkap Pelaksana Tugas Sementara Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean saja, si orator kecele, berkali-kali.

Kecele, atau memang tak pernah tahu? Ah, saya juga mual mendengar mereka menyebut kata “berjuang”, “akan berjuang”, atau apalah untuk mendefinisikan apa yang mereka lakukan di jalan-jalan itu.

Tak tahu perjuangan yang telah mereka lakukan hingga mereka bisa menyiapkan uang untuk menyewa sound system megah setiap hari. Yang gema suara jernihnya, menggetarkan pintu-pintu kaca di Gedung KPK, dengan konten orasi yang menjemukan, tanpa makna. Menyiapkan atribut yang lebih dari lengkap untuk menggambarkan musuh bersama mereka, Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Belum lagi spanduk-spanduk mewah untuk ukuran kocek mahasiswa pergerakan pada umumnya. Yang biasanya, hanya bermodalkan bahan bekas, karton murahan, atau ikat kepala yang didapat sejak pertama kali menjejak sebagai mahasiswa.

Hmmm, bagi saya, mereka itu Tukang Demo, bukan demonstran!

Dan sesungguhnya saya menyesalkan sebutan ini. Tapi, bagaimana mungkin konotasi demonstran yang begitu tulus dan positif saya labelkan pada mahasiswa-mahasiswa hari-hari ini. Yang setiap saat, mendatangi gedung-gedung itu tanpa sebuah substansi yang lugas.

Lihat saja, kerja mereka bermalam berhari-hari tanpa arah untuk kembali berteriak di siang hari. Ayolah, kalau kalian ingin yang kongrkrit, belajar sanalah di dalam kelas. Atau buat kajian-kajian serta analisis-analisis tajam tentang negeri ini dan sebarkanlah ilmu kalian untuk rakyat. Jangan hanya berteriak, memacetkan jalan, mengumpulkan orang-orang entah dari mana, tanpa relevansi pergerakan sesungguhnya.

Mereka hanyalah nol besar! Cari sensasi, bukan substansi, untuk eksistensi.

Lihat saja yang akan mereka lakukan hari ini di depan Gedung DPR. “Undangan pers: Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam KOMUNITAS MAHASISWA RAYA (KM RAYA), melakukan aksi memasang 100 BH (bra) di pintu gerbang DPR dan melepas 15 ekor tikus yang sudah dipasangi foto SBY-BUDIONO dan lambang BANK CENTURY, sebagai simbolisasi turunkan SBY-Boediono karena terindikasi terlibat korupsi Century. Kamis, 12 Februari 2010 pukul 14.00 WIB. Dimohon kedatangan kawan-kawan pers untuk meliput. Terima kasih.”

Sekelompok mahasiswa, juga pernah memberi bra kepada KPK. Saya, tak suka ini!

Saya tidak paham, apa yang bersemayan di kepala mereka tentang bra dan menjadikannya simbol untuk, untuk apa kata mereka? Ya, apapun yang mereka simbolisasikan dengan bra itu, bagi saya adalah sebuah hal yang memuakkan.

Simbol itu (baca: bra), saya pastikan dimaksud sebagai konotasi negatif. Bagaimana mungkin mereka bisa mendapat ide untuk memasang bra, yang-kita-semua-tahu-apa-guna-pakaian-dalam-itu. Apa yang akan mereka sebut sebagai sebuah substansi dengan memajang pakain dalam perempuan itu?

Saya kira, mahasiswa itu tak cukup mumpuni menemukan simbol penolakan yang cerdas untuk membayar kekecewaan mereka pada pemerintahan ini. Kecewa pada pemerintah dan menggantinya dengan sebuah pelecehan?

Seperti kata seorang teman yang marah karena ini, “Ini sebagai simbol hinaan atas ketidakmampuan DPR terkait kasus Century. Penghinaan perempuan!!!”

Ketidakmampuan DPR, disimbolkan dengan menghadiahi bra, apa relevansinya, Kawan? Saya ingat, Soe Hok-gie, aktivis angkatan 1966 dan intelektual yang mati muda itu, pernah mengirim hadiah “Lebaran Natal” kepada 13 perwakilan mahasiswa yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR).

Hadiah itu berupa pemulas bibir, cermin, jarum, dan benang, disertai surat yang intinya menyindir perwakilan mahasiswa itu agar bisa tampil lebih menarik di mata penguasa. Lantas, sindiran apa yang ingin disampaikan mahasiswa itu melalui bra?

Jawablah, untuk sedikit meredam kegusaran saya. Mungkin, saya yang tak pernah mengerti cara mahasiswa berdialektika hari ini.

Kamis,
11 Februari 2010
jam 1.53 

0 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *