Sakit Lupa Berat

Bukan hanya Nunun Nurbaeti yang sakit lupa berat. Tapi, kita semua! Karena “tugas” kita menjual sesuatu yang menarik hingga akhirnya, isu yang seharusnya dikawal, kandas dilalap wacana yang lebih menjual. Demi rating! Demi oplah! Demi menarik ribuan pembaca dan pendengar! Iya. Memang seperti itu adanya. Terima saja. Mau bagaimana lagi. Akhirnya, semua orang jadi pelupa. Lupa berat seperti Nunun yang katanya sudah singgah di Singapura sejak 23 Februari 2010 untuk berobat. Mungkin mengobati sakit lupa beratnya itu.

Kita semua lupa soal fakta-fakta hukum di waktu lalu yang belum pernah khatam dipreteli. Belum habis dicari tahu dan dibuktikan kebenarannya. Kini, sudah berganti lagi cerita-cerita itu. Penguasa yang kemaruk pun bertepuk tangan karena mudah sekali mengganti tema demi tema untuk muncul di halaman-halaman suratkabar. Mereka yang menentukan angle-anglenya karena mereka pemilik jagad ini. Dan, mereka seenaknya! Sekehendak hatinya! Lalu, di sinilah kita menjadi penonton setia yang tak mungkin mengubah skenario sang penguasa seberapa hebatnya pun kita mengulik fakta dan cerita di lapangan.

Fakta-fakta yang pernah sempat terkuak sedikit, tak pernah tuntas dibongkar. Karena kalau ditelanjangi, mungkin saja akan menyeret banyak pejabat. Jadi ingat pernyataan seoarang wartawan senior dari The Jakarta Post. Dia bilang, “Berani gak kita memberlakukan hukum potong kepala kepada pegawai negeri sipil dan pejabat tinggi lainnya jika mereka ketahuan korupsi? Pasti gak berani. Karena kalau berani, banyak PNS dan pejabat negara kita yang gak punya kepala. Malu nanti ditanya tamu negara kenapa banyak pejabat tanpa kepala di Indonesia.”

Supaya kita tak didera sakit lupa berat itu, kita harus saling mengingatkan. Sampai kita sendiri bosan. Bahwa satu demi satu harus tuntas! Tak boleh cerita baru mengalahkan cerita lama yang belum selesai. Belum selesai Century, belum berkekuatan hukum tetap kasus Anggodo Widjaja yang diduga menghalangi penyidikan dan diduga melibatkan oknum penegak hukum, belum ditangkap Anggoro Widjaja, belum hilang ingatan kita bahwa ada pengemplang pajak yang sering berpesta pora di sana, ada lagi dan masih banyak lagi. Belum juga menguap janji reformasi birokrasi yang didengungkan oleh penguasa! Belum, banyak hal yang belum!

Saya tahu, percuma saja bicara seperti ini di sini. Tapi paling tidak, usaha itu tetap harus dilakukan, seputus-asa apapun kita menyaksikan sendiri kekacauan demi kekacauan ini. Karena percayalah, pada akhirnya semua akan menjadi lebih baik. Kita sedang berusaha keluar dari rintihan ini, dan usaha itu sangat pedih karena kita melihatnya dari dekat. Sama seperti ketika kita mengenal seseorang. Jika hanya tahu luarnya saja, kita hanya melihat bahwa dia selalu tersenyum. Kita tak pernah tahu apa yang ada di sudut hatinya.

*Kita tak akan pernah sampai jika tak pernah melangkah*

 

Shares 0

One response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *