Rumah Kontrakan di Rempoa

Hari masih gelap ketika saya terjaga pagi itu. Tidak seperti biasa, sebelum jam 6 saya sudah selesai sarapan. Saya menyeret pelan kaki menyusuri jalan yang sudah jarang saya lalui. Jalan persis di gang rumah saya, tempat adik saya terjatuh hingga tak pernah kembali ke rumah. Sengaja melewati jalan itu pagi-pagi, berharap memori tentang adik saya bisa menambah semangat untuk liputan ke Ciputat, Tangerang. Sebuah rute yang cukup melelahkan dari Pengadegan.

Malam sebelumnya, saya sudah menelepon abang saya yang tinggal di wilayah itu untuk minta diantar ke lokasi liputan, tepatnya ke kediaman Dirjen Pajak Tjiptardjo, Komplek Taman Rempoa Indah, Jalan Palm Indah Blok M No 1-2 RT 07/02, Kelurahan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang, Banten. Agendanya, Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendatangi rumah itu untuk memverifikasi harta kekayaan milik Pak Tjip.

Usaha saya tak sia-sia, karena pukul 08.00 saya sudah tiba di gerbang komplek, meski harus nyasar karena alamat yang diberikan teman saya salah mutlak. Beberapa teman jurnalis sudah sibuk berkutat dengan Nokia E71 maupun Blackberry-nya. “Kalo yang lo maksud mobil pelat merah berisi empat orang, tadi udah masuk (gerbang komplek) sebelum jam 8,” jawab seorang wartawan media online ketika saya bertanya.

Dengan santai, saya mendekat ke pintu gerbang dan berucap salam kepada satuan pengamanan. Si satpam mengarahkan saya menemui seorang perempuan di dalam pos jaga. “Tadi teman Anda juga sudah ada yang ke sini. Tapi kami tetap tidak mengizinkan wartawan masuk. Ini sesuai permintaan pemilik rumah,” jelas Pelaksana Harian (Plh) Manajer Perumahan. Saya, mundur teratur setelah dia menjelaskan, kedatangan wartawan ke kediaman Tjip dikhawatirkan mengganggu ketenangan penghuni komplek.

Menit demi menit bergulir sampai akhirnya sejumlah wartawan dari berbagai media sudah mengerumuni gerbang komplek. Dan, kesepakatan tak tertulis dicapai dalam tempo singkat: kita masuk dengan atau tanpa izin penjaga gerbang! Saat itu, jarum jam sudah di angka 9 tepat. Satu-satunya mobil salah satu stasiun televisi bergerak merapat mendekati muka gerbang disusul puluhan motor. Saya duduk di boncengan fotografer saya dan berada di sisi kiri mobil. Ibu Plh dan tiga sekuriti bersiaga di depan gerbang. Adu mulut dan kericuhan tak terhindarkan.

Sejumlah mobil dan motor dari dalam komplek terpaksa berhenti terhalau kendaraan bermotor milik para jurnalis. Setelah mengalah sejenak, akhirnya kami berhasil menembus “blokade” sekuriti yang dibantu beberapa warga. Tapi, warga komplek lebih banyak yang mengizinkan kami masuk. Malah, seorang ibu mencegat ketika saya berlari menuju rumah Pak Tjip. “Rumahnya bukan cuma itu, neng. Ada lagi di sebelah sana,” kata si ibu penuh semangat.

Berbekal informasi singkat dari si ibu, segera setelah Tim KPK dan Tjip memberi keterangan kepada wartawan, beberapa dari kami lanjut berburu rumah Tjip yang kata si ibu, tak jauh dari komplek itu. Lantas, sampailah kami di depan pagar tembok setinggi lebih dari dua meter. Di dalam pagar tembok, berdiri kokoh rumah Tjip seluas 150 meter persegi di atas tanah 1.645 meter persegi. Menurut penuturan warga sekitar, rumah itu layaknya kebun binatang. Letaknya di Jalan Delima Jaya I RT 06/03 No 40, Kelurahan Rempoa, sekitar 500 meter dari komplek. Sekitar 50 meter dari situ, ada lagi dua rumahnya yang sedang dibangun.

Penasaran, saya dan seorang teman berusaha melihat dengan tegas isi halaman rumah. Melihat ada sebuah gang kecil di samping rumah Tjip, kami menyusuri gang itu. Berharap ada celah. Tapi sayang, rumah-rumah warga itu tertutup rapat karena siang memang sedang terik. Awalnya, kami secara sopan ingin menumpang naik ke lantai dua rumah warga agar bisa melongok ke beranda rumah Tjip. Kami berdua tetap melangkah hingga menemukan sebuah rumah kosong bertuliskan, “Rumah ini dikontrakkan. Hubungi ….”

Tanpa pikir panjang, saya menghubungi sederet nomor telepon di kaca jendela kumal itu. Seorang laki-laki menjawab telepon dengan suara berat.

“Oh, boleh. Kapan mau lihat?” tanya si bapak bersemangat. Suara berat berganti keriangan.

“Sekarang saya sudah di depan rumah kontrakan, Bapak. Kalau boleh, sekarang, Pak?” saya melirik takut-takut ke teman saya yang tersenyum gugup.

Kalian tahu, rumah kontrakan itu terdiri dari dua lantai. Lantai dua rumah itu memiliki beranda sempit yang kami duga bisa melihat langsung ke “kebun binatang” milik Tjip. Itu yang membuat kami memutuskan untuk menelepon pemilik kontrakan.

Seorang ibu paruh baya keluar mengenakan daster sederhana. Tubuhnya kurus, kecil, wajahnya seperti orang baru terjaga dari tidur. Seakan bisa membaca apa yang saya pikirkan, dia buru-buru memberi penjelasan, “Maaf, tadi telepon ke hp ya? Saya tadi lagi salat, jadi gak keangkat.”

Dan, kami berhasil masuk ke rumah kontrakan. Kebohongan pun, dimulai! Kami bohong, karena kami percaya diri tingkat tinggi bahwa si pemilik kontrakan tak akan mengizinkan jika kami hanya ingin memanfaatkan lantai dua kontrakannya untuk memotret halaman rumah Tjip. Saya bilang, saya dan teman saya perlu kontrakan karena kami akan bekerja di sekitar Ciputat. Karena kami akan pindah bekerja dan berharap dapat kontrakan yang bisa ditinggali berdua.

Kami saling memberi kode agar ada yang tetap tinggal di lantai dasar dan naik ke lantai dua. Akhirnya, dengan berdebar saya menaiki anak-anak tangga dan teman saya menemani si ibu di lantai dasar. Benar saja. Muka rumah Tjip sangat jelas terlihat. Tapi siyal, kaca jendelanya macet dan saya tak bisa mengambil gambar dengan jelas hingga terdengar langkah kaki dua orang menuju lantai dua. Saat saya tengah menyesali kesempatan yang terlewatkan, dengan santainya, si ibu bilang, “Kalau mau jemur pakaian, ini pintu bisa dibuka.” Gembel! Beranda rumah Tjip makin jelas terpampang. Setidaknya, sejumlah binatang peliharaan ada di sana, di antaranya 4 ekor ayam merak, 5 ekor rusa, 2 ekor Burung Kasuari.

Teman saya mengikuti langkah kaki si ibu menuju beranda sambil tersenyum. Dengan kode singkat, kami berdua sepakat agar teman saya bertahan di sana dan bergantian mengambil gambar. Diam-diam, kamera poket saya pun sudah berpindah tangan ke teman saya. “Bu, di bawah bisa parkir motor, ya? Bisa liat, Bu?” tanya saya. Jawaban “boleh” si ibu memaksanya kembali turun ke lantai dasar, saya menguntit di belakang.

Saya bertanya ini itu yang dijawab penuh semangat oleh si ibu. Dalam hati, ada rasa bersalah karena telah membohongi si ibu. Belakangan, teman saya juga merasa tak enak. Ketika teman saya selesai mengambil gambar, saya kembali naik ke lantai dua. “Mau liat lagi ya, Bu,” saya beralasan. Karena tadi, saya belum sempat mengambil gambar melalui beranda, kata saya dalam hati. Tak seberapa lama, kami pamit kepada si ibu dan bilang jika berminat, kami akan menghubunginya kembali.

Keluar dari rumah kontrakan, kami memilih jalan ke kanan, untuk mengelabui si ibu dan meyakinkan dia bahwa kami benar-benar mencari kontrakan. Kalau kami mengambil jalan ke kiri, itu berarti kami keluar dari gang dan kembali bertemu teman-teman jurnalis yang masih mengerubung di depan rumah Tjip. Kami curiga, si ibu akan menguntit sampai ke muka gang karena jawaban-jawaban kami tadi banyak yang tidak senada (maklum, kami tak menyiapkan naskah untuk berbohong).

Sepanjang jalan, kami menahan degup jantung karena baru saja melakukan usaha nekad hanya untuk mengambil gambar. Di jalan itu juga terungkap, tak ada satu gambar pun yang berhasil kami bidik dengan baik. Pertama, ketika saya naik pertama kali ke lantai dua, saya terjegal oleh jendela kaca yang macet. Kedua, teman saya tak bisa mengoperasikan kamera yang berhasil dia terima dari saya ketika si ibu membuka pintu menuju beranda. Ketiga, saat saya kembali naik ke lantai dua, saya tak membawa kamera yang ada di teman saya.

Bodoh! Gambar hanya berhasil dibidik menggunakan Blackberry milik si teman, dan ponsel Samsung saya dengan kamera 3,2 megapixel. Tapi sudahlah, toh kami tetap senang. Bukankah, yang penting adalah sebuah proses (usaha), karena hasil adalah urusan Yang Mahakuasa (menenangkan diri dan berkilah mencari pembenaran, heheh).

Kepalang tanggung sudah liputan sejak pagi, di Ciputat pula, saya dan teman saya memutuskan untuk terus mencari informasi tentang rumah itu. Sejak kapan dimiliki, atas nama siapa, berapa harganya, dan sebagainya, dan seterusnya. Hingga samapilah kami ke Kelurahan Rempoa. Panas terik hingga keringat membasahi baju tak kami hiraukan. Saya suka liputan ini, apalagi, kasus yang membelit orang pajak tengah ramai digunjingkan.

Selasa, 6 April 2010

Beranda rumah milik Dirjen Pajak Tjiptardjo (Fotografer: Donald Banjarnahor)

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *