Pacific Place, Malam

Merasakan macet yang luar biasa sepulang liputan malam tadi, melayangkan ingatan saya pada beberapa waktu lalu. Belum genap satu bulan. Saat itu, sejak siang hari saya sudah menunggu balasan pesan singkat dari seseorang. Saya butuh informasi dari dia. Meski saya pesimistis dia mau berbagi walau hanya sedikit saja. Pasalnya, yang hendak saya tanyakan adalah informasi yang cukup penting. Khawatir terlalu berlebihan jika saya bilang sangat penting. Sumpah! Banyak yang lebih penting sebenarnya dari urusan siyalan ini!

Kenapa orang itu? Karena meski mungkin dia tak tahu banyak dan detil, saya sangat ingin tahu apa yang dia pikirkan tentang semua yang terjadi hari-hari ini. Sebutlah profesinya di luar profesi saya. Tapi tidak juga, dia tahu persis! Saya kenal dia beberapa tahun lalu. Tentu perkenalan kami terjadi saat saya sudah dengan sengaja menjebakkan diri saya di profesi ini. Sebuah getar panjang di ponsel mengagetkan saya. Orang itu yang menelepon. “Saya sudah selesai. Kamu ikut saya, ya.” Setelah saya menjawab “iya”, sambungan telepon terputus. Tak lama, dia muncul dengan wajah lelah. Kami bersalaman dan berlalu meninggalkan sebuah gedung di selatan Jakarta.

Di luar gedung, sudah menunggu sebuah Alphard mewah berwarna hitam. Hmm… terus terang saja, meski sering melihat Alphard hilir mudik, saya belum pernah duduk di dalamnya. Setelah pertanyaan basa-basi seperti, “Lo tinggal di mana?”, “Betah gak di kantor yang sekarang?”, dan sebagainya, dia menyambung dengan, “Apa yang mau lo tanya dari gue? Termasuk yang off-off itu?”

Saya tersenyum getir mendengar pertanyaan itu dan mulai tak yakin bahwa dia tahu banyak. Dia tetap tampak santai. Seorang supir dan ajudannya diajak bicara dalam bahasa yang saya tak mengerti. Lalu mereka tertawa bergelak sambil dia berujar pada saya, “Kandi, jadi supir gue ini ngetawain gue karena hari ini gue salah melulu. Agenda gue kacau gak jelas. Sory ya, elo juga jadi nunggu gue lama.”

Saya mengangguk saja dan bilang, “Santai aja, Bang. Gue yang minta maaf karena ganggu rutinitas lo. Tapi malam ini, gue tetap harus balik ke kantor.” Dia mengiyakan sambil berkata kepada supir, “Kita ke Pacific Place.” Hari itu hari kerja. Jalan-jalan utama Ibukota padat merayap. Maklum, kami beranjak saat jam pulang kantor. Saya mulai berpikir-pikir, untuk apa saya selalu mencari tahu. Untuk apa saya penasaran pada soal ini dan tentang itu. Padahal, saya selalu mendapat jawaban-jawaban yang mengecewakan. Malah kadang, saya tak tahu harus mencari jawab itu kepada siapa karena saya tak sehebat itu bisa beroleh informasi A1 (baca: valid).

Kami mengobrol di sebuah sudut sambil minum teh hangat. Banyak hal yang kami bicarakan, tepatnya saya tanyakan. Bingo! Saya merasa mendapat jawab atas tujuan sinis saya. Biar saja. Ini dinamika. Berbeda cara pandang adalah hal biasa. Saya juga tak tertarik untuk memancing diri saya menyampaikan pendapat saya. Tak ada waktu untuk mendebat di sini. Saya hanya perlu dia bicara tentang hal-hal yang saya tanyakan. Berderet-deret kalimat yang dia sampaikan pun mencengangkan! Tapi saya harus menahan gejolak keterkejutan saya untuk tidak menarik perhatiannya.

Pembicaraan pun terputus ketika sejumlah orang telah berada di dekat kami. Mereka datang menemui orang di hadapan saya ini. “Kandi, kenalin ini, temen-temen gue. Kalo lo ada perlu soal itu (saya tak bisa sebut), lo bisa kontak dia.” Lantas, dia menyuruh temannya itu menyimpan nomor ponsel saya dan bertutur, “Kalo nanti mau pergi, jangan lupa kontak Kandi. Dia temen gue.” Yang diminta mengontak saya, sudah menyimpan nomor ponsel saya dan menghubungi saya. Nomor orang itu pun kini tersimpan di phonebook saya.

Saya pamit setelah berbasa-basi sejenak dengan sejumlah orang itu. Dia bilang pada saya, hasil pertemuan malam itu akan dia sampaikan kepada saya besok. Dia bilang, “Informasi buat lo aja. Biar lo tau. Tapi kalem aja, ya.” Saya mengangguk dan menyeret “Teva” menuju pintu keluar. Di luar, macet luar biasa dan itu membuat saya agak berkunang-kunang. Pekan itu rasanya saya terlalu lelah hingga menguras beberapa kilo berat badan saya. Dan, semua itu hanya untuk melunasi rasa ingin tahu saya yang mungkin berlebihan. Sebuah taksi Ekspress saya minta mengantar saya ke kantor, jam baru menunjukkan pukul 19.30 malam itu.

Mungkin, kalau saya berpikir lebih dari tiga kali untuk mencari tahu, saya pasti lebih suka menggeleng dan tak menuruti keinginan itu. Tapi siyalnya, saya tak pernah berpikir berkali-kali untuk urusan yang satu ini. Saya sering menyesalkan hal itu karena akhirnya, saya lelah dan marah sendiri. Saya mengingatkan diri sendiri: lebih banyak tahu tak akan menyelesaikan apa-apa selain merusak fungsi otak dan menyebabkan depresi!

Supir taksi, “Baru pulang kerja, Neng?”

Saya, “Iya, Pak.”

Supir, “Terus ini ke Kebon Sirih pulang ke rumah?”

Saya, “Gak, Pak. Saya mau ke kantor.”

Supir, “Lho? Baru mau ke kantor jam segini? Emang kerjanya apa?”

Saya menjawab setengah hati, “Wartawan.” Tak selalu saya menjawab apa profesi saya. Kalau saya menyebut jujur, saya selalu ingin tahu apa yang mereka pikir tentang pekerjaan ini.

Wajah paruh baya supir taksi itu sumringah. Dia tertawa lebar sebelum akhirnya bercerita panjang lebar soal apa yang terjadi di kelurahan tempat dia tinggal. Tentang kenakalan-kenakalan oknum pegawai negeri sipil yang melakukan pungutan liar. Dia juga berkomentar soal apa pun yang tengah menjadi tayangan di televisi dan koran-koran sambil berkata, “Saya seneng ngobrol sama wartawan. Salut saya sama wartawan. Kayaknya tau tentang semua, ya. Menyuarakan orang-orang kecil.”

Saya tersenyum saja. Kepala saya kembali berkunang-kunang. Antara mual karena jalanan macet dan mual mendengar pendapat Pak Supir Taksi. Jadi teringat ucapan wartawan senior Rosihan Anwar yang disodorkan ke hadapan saya oleh musuh saya sore tadi, ā€¯Meski gaji sedikit, jangan lupakan idealisme, perhatikan nasib orang miskin, rakyat juga belum cerdas. Wartawan jangan kehilangan idealismenya.”

0 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *