Liputan Terburuk?

Kambing dan anjing kurus berbaur di halaman Mesjid An Nur, Desa Loyow, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara. Hari itu, Selasa (3/8), sangat terik ketika 482 warga usai melakukan pemungutan suara Pemilihan Gubernur dan Bupati setempat.

Sambil menunggu teman seperjalananku salat, aku mengatup rapat mulutku. Ini terjadi sejak perutku merasa mual dan berakhir dengan jackpot jam 2 dini hari WITA. Aku menjadi lebih pendiam dari yang ku kenal. Perjalanan darat yang seharusnya menyenangkan ku habiskan dengan kalem. Bahkan aku tak mampu menghalau keheningan yang tercipta di antara aku dan orang-orang yang baru ku temui. Sesuatu yang hampir tak pernah ku lakukan ketika menginjak sebuah tempat asing.

Mobil Avanza biru telur asin sewaan bernomor polisi DB4024AG yang menyaksikan aku jackpot dini hari tadi bergerak meninggalkan desa di pinggir Pantai Loyow itu. Di dalam mobil, perutku terus bergolak. Ini agaknya karena penerbangan sialan itu. Seharusnya aku bertolak ke Manado jam 6 pagi hari Senin. Tapi rupanya tiket yang dibeli tertanggal 1 Agustus, berarti Minggu. Terbang pagi pun kandas!

Setelah melalui keributan, aku bersama dua temanku mendapat jadwal take off jam 3.30 sore dengan maskapai berbeda. Delay, dan baru terbang jam 5.15. Transit di Balikpapan, Kalimantan Timur, selama lebih 1 jam, dan baru tiba di Manado jam 00.00 WITA. Seharusnya kami berempat, tapi yang seorang keburu kesal dan membatalkan liputan.

Aku tak langsung bermalam karena harus melanjutkan perjalanan darat selama 4 jam menuju Minahasa Tenggara. Dua rekanku menetap karena akan menuju Tomohon dan meliput di sekitar Manado. Dalam perjalanan ke sana itulah aku tak tahan untuk mengeluarkan ayam goreng dan dabu-dabu yang baru saja ku telan saat dinner, tengah malam.

Padahal udara dini hari itu begitu menarik. Bintang-bintang memenuhi langit malam yang biru. Aroma alam yang khas memunculkan ketenangan. Aku memastikan, tak ada yang tersisa di perutku kecuali lambung dan usus-usus besar. Untung selama sisa perjalanan aku bisa terlelap hingga tak tahu kalau Ismail, si supir, menabrak anjing hingga mati dalam perjalanan. Kami baru tiba di hotel jam 5.30 pagi. Tidur tak lebih dari dua jam untuk kembali berkendara ke Boltim. “Saya nabrak anjing. Mati lagi. Gimana, ya?” suara Ismail ku dengar setengah sadar. “Yaaaahhhh,” hanya itu yang bisa kukatakan.

Loyow adalah desa ketujuh di Kabupaten Boltim yang aku datangi setelah Bongkudai Barat, Bongkudai, Tobongon, Badaro, Lanut, dan Nuangan I. Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Wirdyaningsih memastikan lima kecamatan di Kabupaten Boltim tak boleh ada yang terlewat: Kecamatan Modayag, Modayag Barat, Tutuyan, Nuangan, dan Kotabunan. Dan setelah semua yang melelahkan itu, ditemani hujan, kami melanjutkan perjalanan menuju Minahasa Selatan (Minsel). Bawaslu akan melakukan evaluasi di Sekretariat Panwaslukada Minsel.

Beberapa kilometer sebelum melewati Teluk Buyat di Kecamatan Kotabunan, aku kembali mengeluarkan isi perutku. Kali ini hanya air dan cemilan karena bahkan aku tak berani menyentuh nasi saat sarapan. Kebetulan kami juga belum makan siang. Agaknya, ini adalah perjalanan liputan terburuk sejak aku menggeluti dunia ini Agustus 2007. Saking dropnya fisikku, aku tak tahan jika harus menunduk menatap layar ponsel sekadar untuk ber-sms.

Jam 8 malam, kami tiba di Minahasa Selatan, di sebuah rumah makan yang menyajikan ikan bakar, tetap dengan dabu-dabu yang nikmat. Meski tak se-euforia biasanya, tapi aku menikmati hamparan Teluk Buyat yang menawan dalam sisa perjalananku ke Minsel. Termasuk memerhatikan sekilas intel tampan di Polsek Ratatotok (kebetulan, perjalanan kami dikawal oleh seorang intel polisi juga), mengamati cengkeh-cengkeh yang dijemur di muka rumah penduduk, atau mengabadikan gambar-gambar yang menarik perhatianku sepanjang jalan.

Sebelum jam 11 malam WITA, aku sudah sampai di Kamar 1018 Hotel Swiss-Belhotel Maleosan, Manado. Beberapa jarak dari bangunan hotel, salib-salib dan rosario yang lebih besar dan tinggi dariku memenuhi setiap jengkal jalan yang ku lalui. Sementara laki-laki yang akan salat Magrib berjamaah di mesjid menjalankan ibadahnya dengan tenang. Apakah ini liputan terburuk? Rasanya, tidak juga. Tapi, apakah aku masih sanggup ke Bunaken? Rasanya, tidak!

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *