Tas dari Singapura

Bekerja. Sebenarnya bisa jadi membosankan dan menyenangkan. Kondisi ini, keduanya harus saya nikmati. Saat menyenangkan adalah ketika ada yang harus saya kerjakan dalam pekerjaan saya. Sedang rasa bosan itu muncul ketika I do nothing in working. Ketika bosan menyapa itulah, kerap saya membunuhnya dengan aktivitas semacam menertawai orang!

Adalah teman saya, seorang wartawan “tanpa media di Jakarta” yang menjadi bulan-bulanan kemarin siang. Padahal dia adalah orang yang paling sering menghina dina rekan sesama jurnalis yang bermarkas di sebuah institusi penegak hukum–tempat saya bertugas. Namun kali ini, kesalahannya fatal hingga dia tidak bisa menghindari celaan itu. Saya yakin, awalnya dia sumringah membeli sebuah tas berwarna hijau di bagian luar dan oranye di bagian dalam itu. Tapi belakangan, tas dari Singapura itu pun (mungkin) dia pertanyakan kelayakpakaiannya.

Rapat Kerja antara Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dengan Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masih berlangsung siang itu. Suasana sidang pascamakan siang hening. Setiap peserta sidang, termasuk wartawan yang meliput, sibuk mendengarkan jawaban Kapolri Jenderal Pol Sutanto atas pertanyaan anggota dewan. Hingga sebuah suara mengusik ketenangan.

Sreeeeeeeetttttttttt….

Semua mata mencari asal muasal gangguan. Beberapa pasang mata mendelik diiringi tawa tertahan. Lainnya tersenyum meledek sembari menggelengkan kepala. Sisanya, dan ini yang paling signifikan, tertawa terpingkal-pingkal memaksa yang lain dan beberapa orang ikut tertawa. Meledek, tentu saja. Menghina, pastinya. Pasalnya, itu adalah suara yang bersumber dari perekat tas dari Singapura yang terbuat dari bahan plastik milik teman saya itu. Dia pun kaget mendengar suara perkat tas yang dia buka dengan tangannya sendiri. Kita tahu, selain jenis resleting, tali, dan kancing, tas juga bisa ditutup dengan menggunakan perekat itu. Yang jika kita membuka tas (atau dompet), bisa menimbulkan suara mengganggu.

Itu yang terjadi pada tas seharga Rp150.000. Setelah itu, dia tidak berani lagi membuka tasnya secara langsung dan cepat. Karena dia tahu, gangguan akan dialami siapa saja yang mendengar suara perkat tas itu. Celakanya, semua telinga manusia pasti mendengar sebab suaranya begitu khas. Khas membuyarkan konsentrasi orang lain! Dengan muka penuh harap, dia meminta kepada saya dan teman seperjuangan saya dalam menghina dia, untuk tidak mengusik tasnya. Lebih menggelikan lagi kalau melihat tampangnya yang memelas. Memohon agar tak seorang pun membuka tas yang sepanjang siang dia putuskan untuk dipeluknya erat.

Hingga malam menyapa, dia masih takut membuka tas yang dia beli di Mustafa Centre, Kampung India, Singapura, itu seacara langsung dan cepat. Matanya pun awas memerhatikan perubahan lingkungan yang terjadi jika dia membuka tas itu. Yang membuat keadaan semakin menggelitik, dia pasrah ditertawakan. Tanpa syarat! Suatu hal yang tidak mungkin dia lakukan sebelumnya. Bekerja diiringi tawa, akhirnya jadi sangat menyenangkan.

Shares 0

0 responses

  1. Kandi, sebaiknya dirimu ngetiknya dengan memakai FONT warna ITEM. biar di WordPress keliatan. dirimu pake warna apa yah?? bisa berubah gini….

    ngetik di megi sih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *