Protes kepada Gubernur: Tentang Banjir dan Genangan

Saya sedang berkomunikasi dengan Si ChoQy, nama panggilan notebook BenQ cokelat tua milik saya, ketika seorang teman berjalan mendekat dari arah selatan. Sedari tadi saya sudah melihatnya menutup laptop, merapikan tempat makan, dan mengemasi semua isi tas. Jaket antiair sudah rapat di tubuhnya karena dia ingin bergegas pulang. Dia lalu duduk di sebuah sofa hitam kosong menghadap ke arah utara, ke arah semua orang duduk bergeletak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dia mengumpat setengah hati. Umpatan itu bukan karena hujan deras yang mengguyur ibukota sejak permulaan sore. Pasti bukan karena itu. Siapa pun tahu bahwa hujan adalah berkah dari Tuhan. Tapi karena macet akibat genangan air, banjir, atau apapun. Tidak usah hujan saja, Jakarta sudah macet!

Kalau baru-baru ini ada kampanye “Bukan Gempanya, Tapi Rumahnya” yang harus disiapkan tahan gempa, begitu juga dengan hujan. Bukan derasnya hujan yang menjadi masalah melainkan gubernurnya! Lho? Oh, maaf, sepertinya saya terlalu tendensius. Tapi tentu semua sepakat tidak ada yang bisa menghalangi niat hujan untuk turun ke bumi, sederas dan selama apapun. Pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana jika hujan? Apakah bumi ini (baca: Jakarta) bisa bertahan dengan menampung tekanan dan volume air hujan? Saya bukan ahlinya membedah ini tapi paling tidak saya mengakui dan tahu diri bahwa saya memang bukan ahlinya! Semoga tidak ada yang merasa tersindir.

Jawaban dari pertanyaan itu ternyata, Jakarta tidak mampu menanggung beban air berlimpah yang turun dari langit. Akibatnya, banjir, bukan genangan, terjadi di mana-mana. Di setiap sudut ibukota yang beberapa tahun lalu masih nyaman tanpa banjir sekalipun. Semua tergenang air banjir! Tapi sial! Si gubernur yang mengklaim dirinya ahli mengatasi banjir itu kini mengajari kita semua bahwa kita harus bisa membedakan, mana banjir dan mana genangan. Kata dia, si Fauzi Bowo itu begini, ” “Kalau banjir itu satu dua hari air di situ. Sedangkan genangan air itu lewat. Ini saya jelaskan perlu ada pemahaman tentang itu.” Heh, Anda itu ahli membuat Jakarta menjadi banjir, ahli berkilah, atau ahli tafsir bahasa Indonesia???

Kalau kata www.KamusBahasaIndonesia.org, banjir adalah berair banyak dan deras, kadang-kadang meluap karena hujan terus menerus atau air yang banyak dan mengalir deras. Tidak ada secara spesifik menyebutkan, air itu berdiam selama satu atau dua hari di situ! Kalau genangan, dari asal kata genang, adalah terhenti mengalir atau tertutup atau terendam air (yang tidak mengalir). Malah penjelasan kata “genang” yang lebih merepresentasikan waktu satu atau dua hari itu. Karena di sana dicontohkan, “Tanaman padi menjadi busuk karena tergenang air berhari-hari.” Jadi, saya mau bilang, banjir ya banjir dan genangan ya genangan, terserah! Yang penting, Jakarta sudah terendam! Tidak peduli terendam karena genangan atau banjir, yang penting terendam. Tidak peduli juga mau semata kaki, mau sepaha bayi, sepaha orang dewasa, sedada kakek-kakek, atau seleher jerapah, terserah mulutmu saja, Pak Gubernur! Yang jelas, Jakarta kuyup, rakyatmu menderita, dan Anda hanya bermulut besar saja!

Di saat warga Jakarta mengalami kebanjiran, jalan ibukota yang sudah rusak makin bobrok karena air hujan tumpah ruah, kali meluap tanpa henti, pemimpin yang paling bertanggung jawab di kota ini malah sibuk menguliahi kita soal definisi banjir dan genangan! Apa lah yang ada di otak pemilik nama panggilan Foke itu??!! Serius deh, Pak, we don’t need any explanation whether it is an overflow or a pool, we don’t fuckin’ care! Kami hanya butuh jawaban dan tindakan Anda, apakah Anda bisa mengatasi banjir atau pun genangan itu???

Omong-omong soal otak, otak manusia itu dibagi menjadi dua bagian, otak kanan dan otak kiri dengan fungsi yang berbeda. Otak kanan identik tentang kreativitas, persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Otak kiri identik dengan rapi, perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear, dan tahap demi tahap. Nah, kedua fungsi otak ini harus dilibatkan dalam akitifitas berpikir, kalau tidak akan terjadi ketidakseimbangan yang berpotensi pada lemah otak!

Lalu, otak di sebelah manakah yang dipakai Gubernur saat ini sehingga hanya marah kalau dibilang Jakarta akan tenggelam, berkelit kalau dibilang Jakarta banjir, sibuk menguliahi warga Jakarta dengan pengetahuan bahasanya yang mungkin sama buruknya dengan saya, protes kalau dianggap tidak bertanggung jawab, merasa disudutkan ketika dibilang tidak bisa memenuhi janji kampanye saat pemilukada, menyalahkan warga Jakarta karena buang sampah sembarangan sementara dia sendiri juga tidak bisa memberikan sanksi tegas pada warga Jakarta yang kadang memang sangat jorok, dan tersinggung kalau ditanya wartawan mana solusinya atas banjir yang menghantui ibukota. By the way, wartawan di Balai Kota menanyakan solusi itu kan ke Foke? Bukan bertanya saja kan? Tapi kritik pedas juga direalisasikan dalam bentuk berita di media masing-masing kan? Iya, saya yakin, sudah pasti demikian.

Jangan paksa kami untuk mendengar bahwa ini semua butuh proses, tidak bisa bikin kanal banjir hari ini lantas jadi besok dan bisa meresap semua air hujan yang turun! Jangan juga gurui kami dengan mengatakan bahwa ini juga harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan tidak mudah untuk menyelesaikan persoalan yang sudah bertahun-tahun dihadapi warga Jakarta! Jangan juga meneror kami dengan keluhan dan silat lidah Anda soal apakah ini banjir, genangan, atau apapun! Mudah saja persoalannya, realisasikan ucapan Anda saat kampanye bahwa Anda adalah ahlinya mengatasi banjir! Terserah apakah Anda harus berkoordinasi dengan setan mana pun, silakan saja.

Hujan lama reda. Tapi macet yang diakibatkannya masih berbekas hingga setidaknya jam 1.30 malam. Itu yang saya baca di salah satu status akun twitter seorang teman. Lalu saya membaca juga bahwa Foke terpilih menjadi Presiden Serikat Kota dan Pemerintah Daerah se-Asia Pasifik atau United Cities and Local Governments Asia Pasific (UCLG ASPAC) di ACT City, Hamamatsu, Jepang, pekan lalu. Kepala saya tiba-tiba pening. Kalau kebanjiran, biasanya korban mengungsi di daerah sekitarnya yang tidak terendam. Lantas, kalau negara se-Asia Pasifik banjir, ke mana kita harus mengungsi? Mungkin Presiden Pemda se-Asia Pasifik bisa menjawab….

*Ditulis oleh seorang awam*

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *