Tidak Ada Lagi (Pewarta KPK)

Akhirnya aku memposting sesuatu yang tidak aku sukai, posting perpisahan dengan teman-teman di Kuningan. Ini menyedihkan sebenarnya. Karena permintaanku untuk berpindah tempat tugas direalisasikan agak mendadak menurutku. Tiba-tiba saja disetujui, lalu digeser, dan tidak ada waktu untuk berbasa-basi pamit dengan mereka yang bersamaku lima hari dalam satu minggu. Tapi aku kira, aku tidak perlu terlalu sedih karena beginilah hidup. Ada yang datang dan pergi, dan itu harus dimaknai secara biasa, sebiasa bumi berputar.

Setelah kepergian wartawan superrese dari Media Indonesia beberapa bulan setelah aku tugas di Kuningan, lalu ditinggal wartawan andal dari Koran Tempo yang dipindah ke Majalah Tempo pascakasus Bibit-Chandra, disusul wartawan nekad dari Kantor Berita Antara yang digeser ke Istana Negara, seorang teman yang bersemangat dari Media Indonesia ke Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI, kini giliran aku yang meninggalkan tempat liputan. Bertugas di Kuningan dan sekitarnya adalah yang paling lama di antara semua tempatku bertugas, 1 tahun dan 5 bulan. Dulu di Mabes Polri dan Badan Narkotika Nasional 12 bulan, liputan di desk politik selama pemilu legislatif hanya 7 bulan, sebelum meminta pindah ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Awalnya, aku tidak terlalu merasa berat meninggalkan Kuningan, tapi karenachatting singkat dengan teman yang baru saja ditugaskan di KPK, aku jadi agak emosional. Dia bilang, “Banyak yang belum kita lakukan. Kita belum tanya kapan Pak Bibit dan Pak Chandra mau mundur, kita juga belum ke rumah Pak Bibit, belum tuntas juga urusan ini dan itu….” Aku jadi ingat, kalau ada dua alasan aku masih tertarik liputan di KPK, pertama, karena kasus Bibit dan Chandra yang tidak kunjung berakhir. Kalau pun saat ini hampir berakhir, sepertinya diselesaikan dengan menabrak-nabrak hukum seenaknya saja. Sial! Secara pribadi, aku ingin sekali melihat kasus ini selesai dari dekat, maksudku aku ikut terlibat menulis. Tapi secara keseluruhan, liputan di sana sudah mulai membosankan.

Alasan kedua, dan ini agak emosional, aku sudah terlalu berbahagia liputan di KPK bersama para pewarta yang menamakan dirinya Pejuh Kuning (Perhimpunan Jurnalis Hukum sekitar Kuningan). Aku sih yakin, di mana pun aku bertugas, satu atau dua orang teman pasti ada. Tapi teman-temanku di KPK terlalu menarik untuk aku tinggalkan. Setelah menempati desk baru, tidak akan ada lagi reporter seperti Melati Elandis yang bersama dia aku kerap menertawakan hal remeh. Bersama dia juga aku sering iseng mengumpulkan teman-teman untuk mengikuti acara-acara konyol-yang-penting-senang di Kuningan. Atau sekali waktu dia mendapatiku kesal tertahan dengan seorang pewarta yang memaksa agar aku memberikan catatanku.

Kadang juga menceritakan kembali keusilan wartawan sejenis Moksa Hutasoit yang tidak bosan menyelipkan uang lecek ke jemari-jemari setiap orang. Atau melihat dia menutup hidung menirukan para orator demonstrasi di depan Gedung KPK. Atau mendapati dia menggunakan modus-usang-menerima-telepon-dari-kantor untuk menghindari celaan teman-teman yang sudah di luar kemampuannya untuk berkilah. Tidak ada lagi wartawan bernama Mahendra Bungalan yang selalu menuturkan cerita-cerita konyol, melihat dia mengangkat tangan diam-diam jika siapa pun bertanya alamat email, atau mengikuti aksi saling cela antara dia dengan Santi Andriani–reporter yang kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial dan mengundang reaksi publik Pejuh Kuning.

Tidak ada lagi Tea Time yang digagas oleh wartawan yang jadi andalan kalau ada kasus ekonomi di KPK, namanya Anugerah Perkasa. “Wartawan profesional itu jam segini harus ngopi atau minum teh sambil ngemil,” kalimat itu yang pertama kali dilontarkan Mas Nugie, sapaan akrab Anugerah Perkasa. Sejak itulah tea time menjadi kebiasaan di kalangan pewarta Kuningan. Kalau sudah jam 4 atau jam 5 sore, siapa pun yang merasa perutnya agak lapar atau ingin ngemil, pasti akan berteriak, “Tea time… tea time…” Yang sekadar ingin makan mi goreng pakai telur dadar ala Nebby Mahbiburrahman pasti akan merespon dengan cepat ajakan tea time itu. Tea time di warung mie dan roti bakar sederhana yang harganya selangit persis di samping kanan Gedung KPK.

Semua tidak ada lagi, termasuk menyaksikan Donald Banjarnahor menanyai pejabat KPK melalui doorstop keras–istilah Anggota Pejuh Kuning karena Donald ngotot ketika bertanya. Omong-omong soal Donald, Nebby dan aku biasanya senang sekali memainkan mata kami ketika Donald mulai berbicara. Ada yang khas dari Donald ketika dia berbicara, yaitu “Aaa….” yang kerap jadi bahan tawa Nebby dan aku. Ingat Donald, pasti aku ingat Sekaring Ratri Adaninggar alias Ken. Dia ini setali tiga uang dengan Donald, galak kalau kata Mas Tony. Setiap orang yang membuat dia kesal selalu ingin dibunuh dengan cara dicincang. Dia tidak pernah rela kalau aku ikut-ikutan menertawai atau meledeknya ketika Anggota Pejuh Kuning ramai-ramai mengejek. Akan keluar kalimat seperti, “Heh, Kandi, maksudmu??!!” dengan nada penuh ancaman. Indah Wulandari yang sering menghabiskan waktu bersama Ken sepertinya agak sial. Oh, atau justru Indah sudah terbiasa dengan ancaman akan dibunuh dengan cara dicincang?! Ah, Indah ini, diam-diam dia sudah menjadi pengikut Santi Andriani dalam hal pernyataan kontroversial di milis.

Soal Mas Tony, dia itu yang menggagas ide-ide konyol berbau cabul di milis. Ada istilah yang kemudian dinamakan jebakan betmen dari setiap posting yang tersebar di milis. Agak gila memang dan kami semua ikut dalam kegilaan ini. Sebenarnya, belakangan ini Mas Tony sudah “sembuh” dari kebiasaan menuangkan posting konyol, tapi virus itu menjalar ke semua anggota milis, virus itu menjangkiti setiap kami tanpa ada penawarnya. Hampir semua kebiasaan di sini memang didominasi kekonyolan–kalau tidak mau disebut keanehan dan kekurangwarasan.

Ada lagi yang namanya Vidi Vici. Dia ini teman seangkatanku di kampus, kerjaannya ketinggalan baraaaaannngg terus. Terakhir, pekan lalu, ponsel tuanya tertinggal di Kantor KPK dan perlu membongkar CCTV di ruang tunggu tamu lembaga antikorupsi itu sebelum menemukannya. Ah, aku tidak akan ketemu lagi dengan Mr Lupa ini. Semoga Kaka Vidi, panggilan sayang Vidi di KPK, tidak lupa-lupa lagi, nanti jadi mirip Nunun Nurbaeti Daradjtun. Nama yang selalu ditanya pewarta KPK sampai bosan, “Kapan Nunun diperiksa?”, “Kapan dilakukansecond opinion atas kondisi kesehatannya?”, “Sebenarnya Nunun ada di mana?”, atau “Apakah tim KPK sudah berangkat cari Nunun?” Hah, bosan! Lalu Juru Bicara KPK Johan Budi Sapto Pribowo yang agak gokil itu akan bilang, “Kami masih terus memproses kasus ini, bla…bla…bla….” Intermezzo, Bro Johan Budi baru saja memangkas habis buntut rambutnya karena sering dicela oleh para pewarta. Sebelum dipangkas, buntut itu sering disembunyikan di balik jaket atau jas yang dia kenakan.

Belum lagi Akbari Madjid, yang bangga sekali dengan label MNC Bersaudara bersama Doly Ramadhon, Ferdinan atau Namaku Putri atau Oya atau Taufik Hidayat, dan aku. Ferdinan, dia sebenarnya sudah lebih dulu meninggalkan Gedung KPK dan beralih liputan di DPR bersama Rahmadin Ismail. Banyaklah, aku meninggalkan banyak cerita yang tidak akan ada lagi di hari-hariku nanti. Tidak bisa lagi meledek Setyawati Lukito alias Cien-cien alias Luo Pao Cien, Mbak Linda, Nebby, dan Samuel sebagai reporter hongkongnews.com, termasuk Pak Supri yang dianggap bagian dari redaksi hongkongnews hanya karena pernah satu kali memakai pakaian yang identik dengan China. Atau Syarif Salampessy yang kalau mau laporan berita, dia menyuruh setiap orang di ruang wartawan untuk diam, “Sssssstttt… tiga, dua, satu, pendengar….” Pessy adalah reporter sebuah radio yang setiap jam 3 sore selalu ada rapat agenda setting. Hmmm, mereka semua menyenangkan dan aku harus meninggalkan mereka karena pilihanku sendiri.

Makan siang dengan Cien-cien juga tidak ada lagi. Mendengar dia cerita-cerita tentang apa saja. Sebenarnya juga aku menulis ini gara-gara dia. Chattingdengan teman baru yang aku maksud ya dengan Cien-cien. Aku memang baru mengenalnya. Malah awalnya aku sempat sinis bahwa dia orang yang tidak terlalu menyenangkan, ternyata aku salah. Kalau mau disamakan, dia itu agak mirip dengan Soe Hok-gie karena: China, Katholik, dan kritis. Aku mengejeknya untuk tiga alasan itu sambil becanda. Aku berharap dia tidak marah. Tadi waktuchatting, dia bilang dia sedih sambil memasang ikon orang menangis meraung-raung. Aku kira aku juga sedih. Ah, perpisahan memang selalu menyedihkan, teman….

***

Sebuah mobil tahanan berjalan mundur. Tembok kaca besar di ruang wartawan cukup untuk membiarkan kami melihat jelas mobil berjeruji itu mundur perlahan. Para pewarta tulis dan foto berhamburan dari dalam ruang wartawan ke luar Gedung KPK. Seseorang dengan status tersangka keluar dengan wajah kuyu dan akan menjalani hari-hari di penjara. Kami berdesakan untuk saling melontarkan pertanyaan, yang kadang dijawab kadang diabaikan oleh para terperiksa.

***

“Selamat siang, Pak Bibiiiiiitttt,” kalimat pembuka yang diberondong oleh wartawan ketika pimpinan KPK masuk ke ruang siaran pers.

“Selamat siang, temen-temen,” jawab pimpinan KPK, siapa pun itu, tidak hanya Bibit Samad Rianto.

“Sehat, Pak?” tanya wartawan lagi.

Kalau pimpinan KPK tak kunjung muncul di ruang konferensi pers, akan ada saja ulah para pewarta itu untuk membuat suasana hidup. Dan berada di sana, menjadi bagian dari pengacau atau cukup mendengar lelucon mereka itu selalu menyenangkan. Terima kasih teman, kalian telah memberi banyak warna dalam tugas-tugas ini.

Shares 0

One response

  1. Aku paling benci sama perpisahan :(
    Sayangnya, garis hidup selalu saja begitu. Ada pertemuan dan ada perpisahan.
    Dimana pun lo berada boi, rumah lo tetep di Kuningan bersama Pejuhers.
    Jangan ragu, jangan sungkan dan jangan mikir buat merapat kembali ke Kuningan meski sekedar nyampah bareng dengan kami. Begitupun untuk bergabung dalam acara nggak penting yang penting senang yang biasa digelar Jumat malam.
    Kata good bye di Kuningan nggak berlaku buat lo boi, because it’s not goodbye :) *panda-tanpa nababan-hugs*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *