Belakang Mabes Polri

“This is totally rejected!”

Itu komentar pertama tentang tulisanku di kantor yang baru aku masuki 1 Desember 2010. Aku terbahak, menertawakan diri sendiri. Karena, jangankan orang lain yang memahami dunia yang aku geluti sekarang (baca: ekonomi). Aku yang masih buta saja gerah lihat tulisan perdanaku itu.

Tulisan compang camping, dikerjakan oleh wartawan kemarin sore yang selama 3 tahun 3 bulan sibuk berkutat di kehidupan hukum. Wartawan yang dipandang sinis oleh beberapa orang karena nekad terjun ke dunia ekonomi. Oh, bukan hanya sinis, mereka malah bilang aku tidak akan bisa berbuat banyak di bidang ini. Iya, itu bisa saja terjadi, tapi kemungkinan selalu lebih dari satu.

Aku bukan sedang berjudi dengan pekerjaanku atau menjajal-jajal peruntungan. Ini adalah keputusan yang sudah ku ambil. Sama saja seperti ketika aku nekad kuliah jurnalistik yang ditentang Bapak. Tugasku sederhana, hanya membuktikan kepada beliau bahwa aku berusaha bisa! Dan aku masih dalam proses pembuktian itu hingga hari ini.

Ini juga, sama saja seperti ketika aku menjalani hari-hari pertama di Mabes Polri. Saat itu, aku hanya tahu bahwa aku adalah wartawan yang harus siap ditugaskan di manapun. Mabes Polri, aku tidak pernah membayangkan akan ada di sana, sedikitpun! Karena aku berharap meliput aktivitas politik, desk yang akhirnya sangat aku hindari dalam kehidupan jurnalistikku. Menghindari omong besar politikus korup!

Lalu di sanalah aku, Agustus 2007. Bertemu aparat negara berseragam cokelat muda dan tua, berkenalan dengan wartawan yang sudah lebih dulu menetap, dan berterima kasih kepada mereka tanpa terkecuali untuk kebaikan atau pun hal-hal tidak semestinya yang ada di sana.

Dulu itu, setiap selesai deadline, aku dan 13 orang teman seangkatanku di kantor, bertemu redaktur masing-masing. Sama saja. Tulisanku dicorat-coret, dibilang buruk, strukturnya kabur, anglenya tidak layak muat, dan lainnya, dan sebagainya. Kaget juga saat itu, tapi hidup belum selesai dan pekerjaan baru saja dimulai. Beberapa lama bolak-balik ke Jalan Trunojoyo, sepertinya aku bisa memenuhi keinginan redakturku saat itu.

Jadi sekarang, setelah berkantor di belakang Mabes Polri, rasanya aku seperti mengalami lagi awal-awal menggeluti dunia ini. Liputan, ditulis, dan kacau. Pada jam-jam makan siang di kantor sekarang ini, aku diingatkan tentang hari-hariku berpeluh di Trunojoyo. Karena aku ada di sekitar sana, aku makan siang di belakang Mabes Polri, di tempat aku mengawali pelajaran pertama sebagai kuli tinta.

Kalau aku rajin, seharusnya aku bisa melewati urusan-urusan ini, mengganti kekacauan dengan sesuatu yang luar biasa. Aku pun dulu buta hukum dan semoga tidak ada bedanya dengan yang aku geluti sekarang. Apalagi, lingkungan kerjaku juga kondusif. Maksudku, beberapa dari mereka juga tidak waras, konyol, dan bisa membunuh kejenuhan. Aku pun tidak punya alasan untuk mundur teratur. Selamat belajar!

“Aku rasa semua yang ada dalam artikel-artikelku adalah petasan-petasan kecil. Dan aku ingin mengisinya dengan bom.” *Soe Hok-gie*

Shares 0

One response

  1. my first foray to professional translation world was also full crossed, circled with a big ‘I don’t understand this!’ and other rejections on my translated documents. just carry on :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *