Pesan dari John Grisham

Judul novelnya terlalu hukum, sangat hukum. Tapi saya justru tergelitik pada persoalan ekonomi yang hanya menjadi bagian kecil dalam novel ini. Bisa saja ini karena saya sekarang menjadi “anak” ekonomi, tapi saya masih mengantongi sisa ingin tahu pada bidang hukum hingga masih suka membaca novel hukum ketimbang ekonomi (apakah ada?). The Last Juror karya John Grisham menceritakan tentang seorang wartawan muda, Willie Traynor, yang bekerja di koran mingguan county di Clanton, Alabama. Traynor menulis berita tentang sidang pemerkosaan dan pembunuhan terhadap single parent beranak dua. Novel ini secara keseluruhan lebih banyak bicara hukum, disuguhkan dengan cara yang konyol dan menggelitik tapi serius.

Pada suatu waktu di tahun 1978, Clanton kedatangan Bargain City, perusahaan ritel raksasa yang menyediakan segala jenis kebutuhan masyarakat. Clanton pada waktu itu digambarkan sebagai kota yang berpenduduk kurang dari 10.000 jiwa. Saya baru saja membuka Wikipedia dan membaca bahwa kota itu didiami oleh sekitar 7.800 jiwa pada tahun 2000. Kedatangan Bargain City menuai kontroversi: sebagian kecil menolak dan gelombang besar lainnya mendukung didirikan toko-toko megah, seperti yang sudah dilakukan di sejumlah kota lain di Amerika Serikat waktu itu. Dewan Kota akhirnya menggelar dengar pendapat tentang boleh tidaknya Bargain City mengubah wajah Clanton. Traynor ada di sana, meliput dan terlibat aktif untuk menolak.

Dalam dengar pendapat yang dilangsungkan di Ruang Dewan Kota, Juru Bicara Bargain City memberi gambaran yang meriah mengenai pertumbuhan ekonomi, penghasilan dari pajak penjualan, 150 pekerjaan untuk penduduk setempat, dan produk terbaik dengan harga paling murah. Sejumlah pemilik toko setempat menolak, beradu argumen dengan siapa pun yang menyetujui pembangunan toko-toko Bargain City. Dan, inilah yang disampaikan Willie Traynor, si wartawan 24 tahun sekaligus pemilik The Ford County Times, koran mingguan Clanton:

Sebagian pekerjaan yang dijanjikan Bargain City merupakan pekerjaan dengan upah minimum. Peningkatan penghasilan dari pajak penjualan didapat dengan mengorbankan para pedagang yang dengan cepat disingkirkan oleh Bargain City. Penduduk Ford County tidak akan begitu saja terjaga pada suatu hari dan tiba-tiba mulai membeli lebih banyak sepeda dan lemari es hanya karena Bargain City memiliki etalase yang lebih memesona.

Aku menyinggung kota Titus, sekitar satu jam ke selatan dari Clanton. Dua tahun sebelumnya, Bargain City membuka toko di sana. Sejak itu, 14 toko pengecer dan satu kafe telah tutup. Aku menyinggung kota Marshall, di Delta. Dalam tiga tahun sejak Bargain City dibuka, dua apotek, dua toko swalayan kecil, toko besi, butik pakaian wanita, toko cendera mata, toko buku kecil, dan dua kafe telah tutup. Aku sempat makan siang di kafe yang tersisa dan pramusajinya, yang telah bekerja di sana selama 30 tahun memberitahuku bahwa bisnis mereka kurang dari separo dibandingkan dulu. Aku menyebut kota Tackerville, yang setahun setelah Bargain City berdiri, kota itu dipaksa menghabiskan 1,2 juta dolar untuk perbaikan jalan agar lalu lintas di sekitar areal perkembangan menjadi lebih teratur.

Kuberikan salinan hasil penelitian yang dilakukan dosen ekonomi di Universitas Georgia kepada Wali Kota dan Anggota Dewan Kota. Dosen itu mengikuti perkembangan Bargain City selama enam tahun serta mengevaluasi pengaruh finansial dan sosial dari kehadiran perusahaan itu terhadap kota-kota yang berpenduduk kurang dari 10.000 jiwa. Penghasilan dari pajak penjualan kurang lebih sama; penjualan hanya beralih dari para pedagang lama ke Bargain City. Jumlah pekerjaan lebih kurang sama; para karyawan toko lama di tengah kota digantikan oleh para karyawan baru di Bargain City. Perusahaan ini tidak menanamkan uang yang cukup besar di masyarakat, selain lahan dan gedungnya. Malahan, perusahaan itu tidak mengizinkan uangnya berdiam di bank setempat. Setiap tengah malam, penerimaan hari itu dikirimkan ke kantor pusat di Gainesville, Florida.

Penelitian tersebut menyimpulkan, ekspansi jelas merupakan langkah yang bijak bagi para pemegang saham Bargain City, tapi secara ekonomis menghancurkan sebagian besar kota kecil. Kerusakana yang sebenarnya terjadi pada sisi budaya. Dengan toko-toko yang tutup dan trotoar yang sepi, kehidupan kota yang kaya di jalan-jalan utama berakhir dengan cepat.

Petisi yang mendukung Bargain City berisikan 480 nama. Petisi kami yang menentang kehadirannya hanya 12 nama. Dewan Kota memilih secara mutlak, 5-0 untuk menyetujuinya. Aku menulis editorial yang keras dan selama sebulan membaca surat-surat pedas yang ditujukan kepadaku. Untuk pertama kalinya, aku disebut “pecinta pohon”. Dalam waktu sebulan, buldozer-buldozer telah meratakan tanah. Dengan besarnya uang yang ditanamkan, Bargain City tidak membuang waktu membangun gedung, peresmian akan digelar pada 1 Desember, tepat waktu menyambut Natal. Dalam waktu singkat kota telah menyetujui pompa bensin, swalayan, toko serba ada, tiga restoran cepat saji, toko sepatu diskon, dan toko perabotan diskon.

Pada 1 Desember, Wali Kota, Senator, dan para tokoh lainnya memotong pita peresmian. Segerombolan orang menyerbu masuk dan mulai berbelanja seperi orang kelaparan yang menemukan makanan. Aku menolak menerbitkan liputannya di halaman pertama. Aku membenamkannya di halaman tujuh, tidak lebih dari berita kecil, dan tindakan ini memicu kemarahan Wali Kota dan Senator serta tokoh lainnya. Mereka mengharapkan acara peresmian diberitakan besar-besaran.

Masa Natal menyedihkan bagi para pedagang tengah kota. Tiga hari sesudah Natal, toko Western Auto berusia 40 tahun mengumumkan penutupannya, sebagai korban pertama dari Bargain City. Toko itu menjual sepeda, peralatan rumah tangga, dan televisi. Pemiliknya memberitahuku bahwa untuk televisi berwarna dia harus membelinya seharga 438 dolar, dan sesudah memotong harganya beberapa kali,dia harus berusaha menjual seharga 510 dolar. Tapi model yang sama diobral di Bargain City seharga 399 dolar. Penutupan Western Auto menjadi berita di halaman pertama koranku.

Di bulan Januari korban berikutnya jatuh, Apotek Swain’s di samping Tea Shoppe, lalu Maggie’s Gift di samping toko pakaian. Setiap penutupan kuperlakukan seperti layaknya kematian, dan tulisan-tulisanku menebarkan kesan seperti berita kematian. “Kau terlalu banyak berkhotbah dan tidak ada yang mendengarkan,” kata Harry Rex (pengacara Willie Traynor).***

Saya belum banyak tahu tentang hal-hal yang disampaikan John Grisham melalui Willie Traynor sebagai tokoh utama dalam novelnya itu. Apakah cerita fiksi usang yang terjadi di Clanton pada 1978 itu juga terjadi di negeri ini, saya tidak tahu. Adakah di negara kita catatan mengenai pertumbuhan ekonomi lebih banyak rakyat yang menjadi pesat atau sebaliknya setelah menjamurnya industri ritel raksasa di setiap sudut kota? Saya tidak tahu. Dan, apa kabar daerah resapan air di negeri ini? Saya masih tidak tahu. Tidak bermaksud sinis, ini benar-benar pertanyaan dari saya yang awam. Semoga belum terlambat untuk sekadar bertanya. Oh, tentu saja hal-hal buruk itu hanya terjadi di wilayah berpenduduk kurang dari 10.000 jiwa, bukan di sini, di negara ini. Bukan.

*Thank you, Mr Grisham. You force me to think*

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *