Menyisakan Cerita

Pohon-pohon yang pernah kami tanam mulai rindang, akarnya makin kokoh. Batangnya tidak goyang diterpa angin, dahannya juga menjaga ranting-ranting agar tetap di tempatnya untuk terus tumbuh, sementara kami mulai menjauh. Entah siapa yang menyadarinya terlebih dahulu, tapi jarak itu enggan rekat sebagaimana sebelumnya. Walaupun di waktu-waktu lalu kami memang hanyalah orang asing bagi satu sama lain.

Aku tersadar kemarin malam ketika sibuk mengerjakan hal-hal yang biasanya kami selesaikan bersama. Kemarin aku mendapati diriku sendiri. Dia entah di mana, menghabiskan waktu di jalan dan waktu yang tak pernah dia miliki sebelumnya. Sesekali aku menonton dari jauh lewat cerita-cerita orang tentang dia. Aku? Aku hampir tak lagi punya jawaban tentang apa yang tengah dia lakukan saat ini ketika seseorang tak sengaja menanyakannya.

Kami mengawali semua ini pelan-pelan, tidak tergesa, dan tidak pernah memaksakan diri. Ketika waktunya kami tertawa, berdua kami melakukannya. Saat harus merasa terpukul karena tindakan yang kami lakukan, kami pun mengamini bahwa semua memberi berperan atas konsekuensi yang kemudian menyusul. Aku senang dengan adegan yang mengalir tanpa skenario muluk. Karena setiap scene-nya pasti akan lebih jujur.

Lagipula, jarak ini tercipta bisa jadi karena aku juga punya urusan sendiri yang tentu saja tidak perlu melibatkan dia. Bagaimanapun, kami adalah dua orang yang tidak bisa selamanya sejalan, meskipun kami selalu mengakui bahwa kami tidak pernah meragukan satu sama lain. Atau justru kami sengaja mengubur kebersamaan kami sendiri karena pertemuan kami memang hanya untuk diakhiri dengan cerita. Kalau pun itu yang terjadi, rasanya tidak begitu buruk. Cerita tidak selamanya hanya sebuah dongeng.

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *