Selasa, Sebelum Reshuffle

JAM 3.50 pagi aku dikejutkan oleh “Fix You” milik Coldplay yang aku atur sebagai nada dering. Aku belum tidur semalaman karena rasa sakit di perutku. “Iya,” aku mendapati suaraku parau menjawab telepon seorang teman.

“Boleh ya, Ra, gw doain mereka yang buruk-buruk? Boleh ya? Boleh ya?” itu suaranya. Getir. Berat. Tapi sangat teratur.

“Lo di mana?” tanyaku cepat. Perutku masih bergolak.

“Lo denger gue ya, Ra. Dengerin gue. Orang gak bisa selamanya diam ketika dipukul. Gue gak pernah kasar, Ra. Gak pernah. Lo tau, kan?”

“Iya tau. Lo di mana sekarang?” aku mengulang, tenang.

“Gue di kamar. Jadi boleh ya? Boleh kan? Boleh ya, Ra, gue doa yang buruk-buruk? Setiap orang harus membayar yang mereka makan kan?” kini suaranya ditemani air mata. Lalu deras sebelum akhirnya reda dengan cepat.

“Iya, boleh….” dari kamarku aku mengangguk.

“Gue udah santai. Tapi dia gak bisa kayak gitu. Jadi lo denger gue ya, Ra? Lo denger gue. Liat nanti, dia harus minta maaf sama gue. Dia harus tau juga rasanya. Boleh ya, Ra? Boleh kan?”

“Boleh….” jawabku, tanpa sedikitpun berusaha mencegah air mataku.

Akhirnya dia merasa sangat lelah. Meski seharusnya dia sah saja menyerah sejak kemarin-kemarin. Tapi dia terlalu tangguh, menelan semua sendiri, sebelum menutupnya dengan kepastian: orang itu harus merasakan luka yang sama!

Adzan Subuh berkumandang dari mesjid di belakang rumah. Mesin air mulai berisik disusul kecipak dari kamar mandi. Ku dengar suara pintu ditarik, kemudian hening. Bapak melangkah pelan-pelan menuju mesjid.

Beberapa kilometer dari rumahku, para menteri dengan kinerja jeblok dan pandai menjilat memulai harinya dengan cemas. Sebagian sudah dijungkalkan sejak dua atau tiga hari lalu. Malam ini, Presiden mereka akan mengumumkan reshuffle menteri secara resmi. Sedagnkan hari ini, temanku akan kembali menulis di halaman kosong, sebuah kisah baru.

*Selasa, 18 Oktober 2011, jam 3.54

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *