Jalan Aspal

TIBA di rumah setelah jam 11 malam. Bus TransJakarta yang aku tumpangi tidak berhenti di Stasiun Cawang dan pintu otomatisnya baru terbuka setelah sampai di halte berikutnya. Fakta itu membuat jarakku dengan rumah bertambah panjang. Aku hampir tidak pernah pulang naik ojeg kecuali dalam kondisi sangat terpaksa. Iya, aku pejalan kaki tulen!

Di jembatan penyeberangan yang adalah untuk pejalan kaki, sebuah klakson sepeda motor menjerit di belakangku. Aku sedang tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan makian, jadi aku berjalan ke pinggir tanpa menoleh ke asal suara. Sepeda motor sialan itu melintas cepat dan menyisakan hembusan angin. Padahal biasanya, aku tidak akan bergeser ke pinggir dan akan dengan senang hati meladeni pengendara tolol itu.

Setelah menuruni anak-anak tangga dengan pelan, aku menyusuri trotoar. Langkahku hanya ditemani bising kendaraan bermotor karena lupa ingatan untuk membawa headphone. Hingga aku sampai di jalan lokal. Kondisi gelap membuat aku tersadar bahwa jalan itu baru saja diaspal setelah berjalan sekitar lima belas meter di jalan lokal itu. Aku tidak suka melewati jalan yang baru saja diaspal, yang warna pekatnya masih kental, dan belum banyak dilalui kendaraan.

Jalan baru beraspal mengingatkanku pada adikku yang pergi September 2008. Yang harus pergi setelah kecelakaan membuat kepala dan wajahnya berlumuran darah, koma, dan dipanggil Sang Pencipta. Jalan yang dilewati adikku saat itu sangat hancur, lubang menganga di sana-sini, tepat di pintu keluar perumahan anggota dewan yang terhormat. Beberapa tetes darahnya tercecer di lubang itu, beberapa lainnya di pagar besi rapuh yang membatasi Stasiun Kereta Api Kalibata dengan jalan, dan entah di mana lagi.

Lalu sepekan kemudian, jalan itu menjadi mulus, diaspal, dan menutupi lubang-lubang itu. Menutupi sisa-sisa darah yang tercecer. Lututku hanya lemas melihat jalan beraspal, tapi bukan berarti aku tidak ingin melihat perbaikan infrastruktur. Aku hanya sedikit gemetar, karena kaget dan mengingat kepergian adikku, hanya itu.

29 November 2011,
jam satu dini hari lewat dua menit

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *