Jangan Berhenti

KEBODOHAN itu terang, tidak samar. Aku membaca pelan-pelan kebodohanku sendiri dalam percakapan panjang dan menyesakkan itu. Percakapan diawali dengan pikiran tak bertanggung jawabku bahwa dia tidak percaya padaku. Bagaimana bisa pikiran konyol itu berkeliaran di kepalaku sepanjang hari kemarin dan merusak selera bicaraku? Sangat kekanakkan!

Aku mengatakan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia pikir akan dia lakukan kepadaku. Hingga dia bilang, dia bingung dan sedih. Lantas baru aku merasa bersalah. Tidakkah aku seperti orang yang kurang waras sepanjang hari hingga dini hari ini? Menyiksa diriku sendiri dengan pikiran konyol dan berujung dengan menyakitinya. Membuat dia sedih. Membuat dia takut karena merasa telah membuatku sedih, dan membuat dia bingung. Semoga Tuhan membiarkan dia memaafkan kekurangwarasanku.

Yang paling mencengangkan adalah, aku tahu persis dari siapa aku belajar memupuk kepercayaan pada orang selain diriku sendiri. Iya! Aku belajar mengenal lagi rasa percaya itu dari dia, setelah kepergian semua orang yang sangat aku percaya sepanjang hidupku, adikku dan seorang sahabatku.

Setelah adikku, aku tak butuh pujian siapapun untuk setiap kerjaku dengan profesi ini. Dia membanggakanku di depan teman-temannya. Dia bilang aku perempuan paling hebat, dan kepercayaan itu lebih dari cukup untukku. Dia juga yang menyimpan rapi semua keburukanku. Dan kepada sahabatku, aku titipkan setiap persoalan berat di telinganya. Walau kadang dia tidak tahu detilnya dan melewatkan sejumlah cerita. Meskipun juga tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantuku, kecuali mendengarkan. Tapi itu lebih dari cukup. Karena dia hanya mendengarkan, dan tak pernah meneruskan cerita itu kepada orang lain.

Tanpa mengecilkan arti satu atau dua sahabat perempuanku saat ini, tapi aku sudah lama menyimpan semua persoalanku yang terlalu menyedihkan sendiri. Aku menutup rapat semua ketakutan terdalamku di pikiranku sendiri. Aku tak ingin membagi kekhawatiranku dengan orang lain. Aku tak pandai memercayai orang lain apalagi melibatkan mereka untuk setiap urusanku yang terlalu detil dan kelam.

Bagiku, orang lain cukup melihat aku tertawa dengan liar dan tanpa batas. Mereka tak boleh melihat aku muram, meskipun sesekali mereka akan membaca bahwa aku sedang marah dan kecewa. Biar saja mereka bermain dengan pikiran mereka sendiri sementara aku akan menyimpan semua di sini, di hati dan pikiranku. Sampai akhirnya dia datang dan menyapaku hati-hati, menawarkan kebaikan.

Aku ingat kalimat pertama yang dia lontarkan untuk menolongku saat itu, karena aku selalu sibuk merekam semua kebaikan orang lain kepadaku. Aku juga ingat dia selalu mendukungku bahkan ketika kami belum sedekat hari ini. Dia selalu ada, dia selalu siap, dia selalu tak keberatan, dia selalu membuatku tertawa, dia belajar untuk selalu lebih sabar, dia tak pernah meninggalkanku.

Dan yang paling berharga adalah dia mengajariku bagaimana memercayai seseorang. Dengan cara yang mungkin tanpa dia sengaja, dia membuatku memercayainya lebih dari siapapun kecuali keluargaku. Aku menyukai setiap inci kebaikan dan ketulusannya dan aku akan berjanji melakukan hal yang sama. Aku tercengang oleh setiap jengkal perlakuan manisnya kepadaku dan aku akan berusaha membalasnya. Hingga akhirnya tidak pernah aku merasa terpaksa melibatkannya dalam setiap kesenduan dan dia selalu bersamaku. Selalu ada dan selalu percaya.

Tolonglah, jangan pernah berhenti dan jangan pernah lelah meladeniku.

0 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *