“Guru Bukan Dewa”

“Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau. Guru yang tak tahan kritik, boleh masuk keranjang sampah.”

Pernyataan yang dibuat Soe Hok-gie setelah nilai ulangannya dikurangi dua oleh sang guru sejarah ketika Gie mengkritik penjelasan gurunya tentang beda penulis dan penerjemah. Aku tak ragu untuk menyepakati apa yang Gie katakan, meskipun hal itu yang justru membuatku terpukul hari-hari ini. Aku akan selalu mengingat momen ini, tak akan pernah lupa. Tak akan pernah!

Mungkin mulutku memang berbisa dan mungkin saja aku adalah perempuan paling brengsek di dunia ini karena selalu saja menanyakan dan melakukan protes atas hal-hal yang aku anggap keliru. Dan aku sudah “melakukan kesalahan fatal” karena mengkritik orang yang lebih tua dariku. Iya, kesalahanku hanya itu. Kecuali ada di antara kalian yang bisa menyebutkan kesalahanku yang lain.

Kalau pun akhirnya aku berkata yang dianggap menyakitkan karena menyindir orang yang lebih tua, aku bukan orang gila yang begitu saja berucap demikian. Karena ada hubungan kausalitas di sini. Meskipun akhirnya aku harus meminta maaf. Entah terpaksa atau tidak, tapi aku sudah melakukannya. Dan aku harus terus menundukkan kepalaku di hadapan orang yang telah mengataiku.

Aku memang brengsek, tapi aku bukan orang yang arogan. Aku terbiasa dan akan dengan sangat rendah hati meminta maaf jika perbuatan dan perkataanku salah. Tapi kali ini aku sakit hati. Ya Tuhan, aku hampir tidak pernah sakit hati dengan apa yang dilakukan orang lain kepadaku. Aku juga bukan orang yang suka mengungkit salah orang lain ketika mereka sudah meminta maaf.

Tapi yang terjadi belakangan ini sungguh menyakitkan. Kalau mereka bisa emosi, kenapa aku tidak boleh? Kalau mereka boleh lelah, kenapa aku harus menganggap seolah-olah aku tidak pernah berbuat apa-apa di sana? Kalau aku boleh dimaki orang, kenapa aku tidak boleh memaki balik? Kalau aku sudah difitnah, kenapa aku tidak boleh menjawab? Kenapa aku tidak boleh mengkonfirmasi? Kenapa aku harus menahan diri sementara yang lain tidak?

Padahal mereka bilang, aku temperamental! Mereka bilang aku keras kepala! Mereka bilang sikap dan tindakanku membuat gerah semua orang! Mereka bilang aku tidak mau mengalah! Mereka bilang aku terlalu keras! Tapi siapa yang dihina tetapi diam saja hanya demi menjaga semua hal agak terlihat baik? Siapa yang tidak membalas ketika dikata-katai di dalam forum terbuka?

Mungkin saatnya aku diam. Diam saja. Tak usah berpendapat apapun apalagi bertanya, ikut saja apa kata mereka. Tak perlu sok kritis dan selalu merasa benar. Tak perlu punya banyak cerita dan keinginan. Iya, diam saja mungkin lebih baik. Bercerita saja pada halaman-halaman kosong sebuah notepad atau aplikasi microsoft. Tampung saja sendiri semua kesedihan yang dirasakan, dan bersikaplah bahwa semua baik-baik saja.

Iya, semua baik-baik saja seperti yang diinginkan semua orang. Meskipun aku sangat sedih dan terpukul. Tenang saja, aku akan selalu berupaya baik-baik saja dan akan bersembunyi di sini jika wajahku murung. Sehingga kalian tak akan pernah mengetahui seberapa besar luka menganga itu karena aku menyimpannya rapat-rapat.

Sumber: Mesin Pencari Google

“Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar golongan apapun.” – Soe Hok-gie

0 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *