Dear, My Sweetheart

“… Walau hidup, kadang tak adil, tapi cinta lengkapi kita….”

Iya, aku mulai saja cerita ini dengan petikan lirik milik Nidji dalam Laskar Pelangi itu. sepertinya itu yang paling tepat menerjemahkan apa yang belakangan ini kita alami. Iya, kita. Bukan cuma kamu, meski kamu memang termasuk yang tertinggal di sana. Tertinggal di tempat yang membuat hampir semua orang yang menjadi bagian dari hari-hari kita saat ini berantakan. Tak terkecuali kita, kamu dan aku.

Aku sedih kamu tertinggal di sana, itu tak perlu kamu ragukan. Pun aku tahu bahwa kamu benci berada di sana. Karena kita pernah sama-sama membencinya akhir tahun lalu, 3 Desember 2011. Tidak hanya kamu dan aku, tidak hanya kita, tapi setiap kita yang tergabung dalam organisasi itu, pasti muak tertinggal di sana. Harus tetap berada di sana, bersama mereka yang bahkan kita tidak lagi memiliki rasa hormat dan respek yang sama seperti dulu.

Dengan segudang aturan baru yang memuakkan, dengan deadline yang tidak hanya menguras fisik, tapi juga melelahkan batin, dengan segala omong kosong yang kamu dengar baik sengaja atau pun tidak terkait tempat itu karena bagaimana pun, kamu masih ada di sana. Masih harus terus di sana sampai kamu punya tempat lain untuk kamu diami.

Kamu tahu persis kamu tak mungkin pergi dari sana, saat ini. Karena kamu punya angan dan asa, kamu punya keinginan, dan kamu tak mau mengorbankan itu. Lalu kamu juga mendapati fakta bahwa kamu sudah muak semuak-muaknya. Bahkan sampai masing-masing kita kehabisan diksi dan kata-kata untuk membicarakannya. Hingga kamu hanya bisa diam dan menikmati.

Aku ingat betul yang kamu bilang kemarin pagi, “Berasa jadi orang yang oportunis, pragmatis, dan jual kepala temen sendiri…” Iya, mungkin kamu merasa seperti itu karena tak ada satu masalah pun yang bisa kamu ubah saat ini. Tak banyak yang bisa kamu lakukan saat ini, bahkan untuk pergi pun tak mungkin, meski sangat ingin, dan kamu bisa melakukannya kapan saja, dengan dukungan penuh dariku. Tapi kamu tidak mau karena kamu tak ingin mengorbankan hal lain yang kita anggap penting.

Kamu harus tahu, aku adalah orang pertama yang terharu karena kamu mau bertahan di sana untuk kita, untuk dua perempuan yang kamu cintai. Padahal kamu tahu pergi dari sana adalah hal yang paling melegakan kamu. Kalau kamu berpikir bahwa kamu adalah oportunis dan pragmatis karena menjaga mimpi kamu, kamu salah, sayang. Kamu justru adalah orang paling tangguh dan siap menghadapi konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan. Karena kamu harus bertahan untuk sebuah kebahagiaan.

Justru kamu adalah orang yang hebat karena dengan segala sikap konfrontatif terbuka yang telah kamu tunjukkan pada mereka, memberi tahu semua orang bahwa kamu muak dengan situasi ini, tapi kamu tetap bisa memenuhi kewajiban-kewajiban kamu dengan sisa profesionalisme yang ada. Jadi kamu salah kalau kamu bilang kamu menjual kepala teman kamu sendiri. Kamu salah besar!

Karena kamu justru sudah menunjukkan bahwa kamu konsisten melakukan perlawanan! Kamu tak surut meski harus menanggung beban psikologis yang cukup luar biasa karena kamu masih harus berada di sana dengan segala kebusukannya, dengan segala kebosanan dan kepenatan kamu. Kamu berada di tempat yang paling sulit dan kamu melaluinya pelan-pelan. Meski kadang kamu sangat ingin mengeluh, sangat ingin lari, sangat ingin mundur, tak tahu apa yang harus dilakukan, dan segala perasaan tak membahagiakan lainnya. Tapi kamu bertahan dan telah memutuskan untuk selalu begitu.

Aku, hampir tak punya pilihan kata apapun untuk mengucapkan terima kasih atas segala ketegaran yang kamu tunjukkan. Atas segala kebosanan dan kepenatan yang kamu pendam sendiri maupun yang telah kamu bagi denganku. Percayalah, yang kamu lakukan hari ini, kemarin-kemarin, dan seterusnya sampai semua urusan ini selesai adalah hal terbaik yang pernah kamu lakukan dalam perlawanan ini.

Kalau kamu masih berpikir bahwa kamu adalah oportunis, ingatlah apa yang telah kamu lakukan kemarin untuk mereka yang telah terusir dari sana. Ingatlah segala upaya maksimal yang telah kamu lakukan untuk perlawanan ini. Ingatlah bahwa keberadaan kamu di sana tak pernah untuk mendukung mereka yang di sana, tetapi kamu tetap dengan perlawanan kamu dengan cara yang saat ini bisa kamu lakukan.

Ingatlah kepenatan dan kelelahan hati kamu karena masih terpaksa harus bertahan di sana karena kamu memang tak dihadapkan pada pilihan yang mudah. Percayalah, kamu yang terbaik. Tak ada satu orang pun dari kami yang bisa menghadapi apa yang kamu hadapi. Tak pernah mudah menjadi kamu, dan kamu melewatinya, meski harus tertatih-tatih. Kalau perjuangan dan perlawanan itu mudah, semua orang di dunia ini pasti akan melakukannya. Yang kamu harus tahu adalah, kalau pun kamu memutuskan mundur dengan alasan apapun, kamu tetap yang terbaik and I will always on your side.

“Fainnama’al ‘usri yusraa, innama’al ‘usri yusraa. (Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).” *Al Quran Surat Al-Insyirah (94) ayat 5-6

With love,
Your sweetheart

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *