Saya Bukan Feminis

Saya adalah perempuan konvensional, kata teman saya tentang saya. Saya jadi teringat soal perempuan ketika beberapa waktu sepulang dari sebuah kota saya bertemu dengan orang yang cukup asik untuk diajak ngobrol. Kami hanya berbincang sebentar. Dia bilang salut dengan perempuan yang masih mementingkan karier ketimbang yang hanya diam di rumah. “Gue dukung tuh gerakan perempuan yang mengusung emansipasi wanita. Perempuan emang harus berdiri sejajar dengan laki-laki!” kata dia bersemangat.

Saya cuma tersenyum. Kecut! Hmmm… saya memang bekerja sekarang. Tapi saya akan diam di rumah jika waktunya. Saya akan mengurus anak saya dengan tangan saya sendiri, bukan dengan pembantu atau baby sitter yang (maaf) tidak punya pendidikan yang cukup untuk mendidik seorang anak. Saya pikir, gunanya perempuan sekolah tinggi adalah untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan berpendidikan, yang semua itu dimulai di rumah. Kalau ada pernyataan, percuma perempuan sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya di dapur, itu salah besar. Karena gunanya perempuan sekolah tinggi memang untuk mendidik anak-anaknya!

Tentang perempuan dan laki-laki yang harus sejajar, memang seperti itu, tanpa gerakan feminis sekalipun. Itu sudah jelas karena perempuan atau laki-laki sama-sama manusia. Saya tidak punya pengetahuan yang dalam soal gerakan feminisme. Tapi saya sinis kepada perempuan mana pun yang ingin emansipasi tapi masih manja, meminta diperhatikan kebutuhannya, minta mendapat tempat di berbagai kesempatan, dan masih memegang utuh pemikiran bahwa kita harus minta kepada laki-laki.

Hei, kesempatan itu datang kepada laki-laki dan perempuan yang punya kualitas. Perempuan harus mengubah mindset bahwa perempuan adalah gender nomor dua setelah laki-laki. Karena mindset itu yang mematikan karakter perempuan itu sendiri. Meminta kesempatan untuk duduk di DPR/MPR adalah hal yang tidak perlu dilakukan. Jika memang berkualitas, kalian akan dipilih. Tidak perlu laki-laki atau perempuan karena kami membeli kualitas, bukan gender!

Saya menilai “matinya” perempuan lebih karena mindset mereka sendiri. Mereka selalu merasa dinomorduakan. Padahal, kalau kita tengok banyak perempuan yang bisa berbuat banyak dan menempati posisi strategis tanpa meminta, melainkan berusaha. Berhentilah meminta. Buanglah pola pikir yang menganggap diri kita sendiri (perempuan) lemah. Ingatlah, bukankah yang bencong itu laki-laki? Jadi, lemah atau tidaknya kita, terpilih atau tidaknya kita, bukan perkara kita laki-laki ataup perempuan, melainkan pola pikir dan karakter kita sendiri!

Itu pasalnya saya menyatakan saya bukan feminis! Saya konvensional! Saya mendukung apa pun yang ingin dilakukan siapa pun, termasuk perempuan, untuk menjadi apa pun! Termasuk menjadi presiden, jika memang punya kualitas!

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *