Kesalahan yang Sering Dilakukan Wartawan Pemula

Masih ingat tulisan awal berjudul Begini Cara Jadi Wartawan Pemula? Sekadar untuk mengingatkan, artikel itu menyebutkan enam poin penting yang harus kamu siapkan ketika mulai menjejaki dunia wartawan.

Yaitu siapkan mental, jangan takut salah, banyak membaca, membiasakan menulis, jangan fokus pada satu bidang, dan harus tahu etika profesi.

Sejumlah wartawan saat sedang melakukan transkrip hasil wawancara narasumber di Kantor KPK. (Foto: Kandi)

Sejumlah wartawan saat sedang melakukan transkrip hasil wawancara narasumber di Kantor KPK. (Foto: Kandi)

Nah, artikel kali ini akan membeberkan kesalahan yang sering dilakukan wartawan pemula. Penyebabnya: enggak sengaja, enggak suka bidangnya, malas, atau bahkan enggak peduli. Disimak yuk!

1. Struktur Tulisan Berantakan
Yang diharapkan editor dari para wartawan pemula adalah kemampuan mereka menulis berita berdasarkan struktur yang tepat. Soal isu, wartawan pemula akan bisa menguasainya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Tapi masalahnya, enggak semua wartawan pemula mampu menulis dengan terstruktur seperti yang diharapkan. Tidak masalah sebenarnya selama mereka mau belajar.

Tapi sering kali ditemukan, reporter akan disibukan dengan rutinitas mencari isu sehingga karya tulisan setiap hari disuguhkan dengan seadanya. Apalagi jika isu yang ditulis berkembang dengan cepat.

Secara tak sadar, wartawan pemula yang malas tak akan sempat memperbaiki kualitas menulisnya. Sementara editor di kantor akan mulai bosan mengedit tulisan reporter yang tak berkembang.

Bagaimana mengatasinya? Kamu harus baca ulang tulisan asli kamu dengan yang sudah disunting editor. Buat reporter media online, baca lagi tulisan yang sudah publish. Jadi kamu bisa belajar saat itu juga, tulisan kamu yang dibuang dan yang tetap dipertahankan editor.

Untuk reporter media cetak, kamu bisa baca tulisan kamu yang diterbitkan suratkabar atau majalah tempat kamu kerja. Dan untuk penulisan berita selanjutnya, kamu harus gunakan tanda baca, kata, dan struktur kalimat seperti artikel yang sudah terbit.

2. Melakukan Kesalahan yang Sama Berulang Kali
Membuat kesalahan saat pertama kali melakukan sesuatu yang baru bukanlah sebuah dosa. Apalagi kalau kamu belum tahu aturan mainnya.

Tapi akan jadi masalah besar kalau kesalahan itu dilakukan berulang kali.

Kesalahan yang sama dua kali, sepertinya masih bisa ditoleransi. Tapi kalau sudah lebih dari dua kali, atau malah hampir setiap hari melakukan kesalahan yang sama, sepertinya ada yang salah sama kamu.

Kesalahan yang sama ini terjadi karena kamu enggak benar-benar memerhatikan artikel kamu setelah editing.

Misal, kamu menulis kata “karir” yang seharusnya “karier” atau “satir” yang mestinya “satire”. Atau bahkan kesalahan tak termaafkan dengan menulis “jalur busway” untuk menulis “jalur bus TransJakarta”.

Kalau kamu jeli, kamu pasti enggak akan lagi pakai kata “karir” di artikel kamu. Kamu juga pasti bakal merasa haram menulis “jalur busway” yang sudah mencemarkan Bahasa Indonesia itu.

3. Malu Bertanya
Kesalahan ini yang paling berbahaya dan menghinggapi sebagian besar wartawan pemula. Asli! Bahaya banget wartawan pemula yang malu bertanya.

Karena malu bertanya bukan cuma bakal sesat di jalan, tapi juga akan sesat pikir dan menulis.

Berdasarkan pengalaman saya, reporter pemula malu bertanya dengan alasan: takut dianggap bodoh, enggak percaya diri, belum mengenal lingkungan, belum tahu isu yang dibicarakan, dan takut dimarahi narasumber.

Satu dari lima alasan itu memang kemungkinan akan dialami oleh reporter pemula. Tapi yang jadi pertanyaan, memangnya kenapa kalau dianggap bodoh?

Kamu kira yang menilai kamu bodoh itu lebih pandai dari kamu? Yakin deh, wartawan lain enggak bertanya bukan karena mereka sudah mengerti.

Yang pakai alasan enggak percaya diri, hal apa sih yang bikin kamu enggak percaya diri? Karena baru pertama kali liputan?

Saya kasih tahu nih ya, setiap wartawan senior pernah menjalani hari pertama liputan, pernah melewati pertama kali bertanya, dan pernah mengalami kebingungan yang sama seperti kamu alami sekarang. Jadi, kenapa mesti enggak pede?

Kalau alasannya belum tahu isu, maka itu di artikel sebelumnya saya katakan, kamu harus meluangkan 15-30 menit untuk membaca berita terkini. Kalau kamu sudah baca tetapi masih ada isu yang terlewatkan, cuek aja. Namanya juga baru, wajar banget salah.

Karena akan lebih memalukan kalau kamu sudah lama liputan tapi masih salah untuk hal-hal umum.

4. “Narasumbernya Enggak Bilang Soal Itu”
Wartawan pemula akan mendapat mandat sebagai ujung tombak media dan menjadi pintu masuk segala informasi di lapangan. Reporter diharuskan mengetahui dan mendapat informasi penting untuk disampaikan kepada redaksi di kantor.

Tapi enggak jarang, reporter di lapangan lebih sering menjawab “tidak tahu” atau yang paling berbahaya: narasumbernya enggak bilang soal itu tuh.

Guys, narasumber memang akan bicara sesedikit mungkin dengan reporter, kalau bisa mereka akan selalu bilang no comment kecuali segelintir narasumber yang memang bocor.

Jadi haram banget buat para wartawan (pemula apalagi lama) menjawab: narasumbernya enggak ngomong soal itu.

Kamu akan terdengar lebih cerdas jika menjawab: tadi aku sudah tanya soal itu, tapi dia menjawab bla bla bla.

Hasil akhir memang penting dalam proses jurnalistik, karena bagaimana pun tulisan kita ditunggu pembaca. Tapi lebih dari itu, “proses” juga merupakan hal utama.

Bertanya kepada narasumber merupakan salah satu proses yang harus dilakukan wartawan pemula. Maka jangan pernah bilang “narasumbernya enggak bilang soal itu” kalau kamu tidak bertanya.

Jadi, penting sekali peran kamu di lapangan untuk terus bertanya, bertanya, dan bertanya.

So, para calon wartawan dan pemula, siapkan diri untuk menghindari melakukan kesalahan itu ya. Sampai ketemu di tempat liputan!

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *