Gajian Lagi

Akhirnya gajian lagi. Setelah lima bulan aku berkutat dengan diriku sendiri dengan segudang tugas kuliah, setumpuk masalah sentimentil tentang perasaan, keluarga maupun teman. Juga ada kesibukan sebagai “wanita kurir” karena iseng-iseng ingin memulai bisnis dengan modal cekak. Kalau untuk kantong mahasiswi, lumayanlah. Minimal tidak perlu membongkar tabungan yang juga ala kadarnya, tidak perlu juga sering-sering minta uang saku sama ibu kalau hendak keluyuran.

Resign dari kantor sebelumnya Agustus 2012, setelah hanya tiga bulan mendekam di sana. Yah, ada satu dua alasan, atau tiga mungkin yang membuat aku beranjak dari sana dan konsentrasi menuntaskan gelar masterku. Meskipun saat ini studi yang aku impi-impikan dulu juga sedang terseok-seok.

Ternyata sudah satu bulan aku ada di sini, di kantor baru yang aku jejaki tanpa sengaja. Tidak perlu aku ceritakan bagaimana awalnya, tapi sekarang aku ada di sini dengan perasaan yang sama dengan setiap orang yang ketika memulai sesuatu yang baru. Sebenarnya bukan sangat baru, karena yang aku kerjakan tidak jauh dari apa yang aku hadapi di enam tahun profesiku sebelumnya. Hanya saja aku sekarang mengerjakan yang sebaliknya.

Untuk mengurus event, juga bukan sesuatu yang aneh buatku. Pengalaman empat tahun berorganisasi di Kampus Tercinta cukup mengasahku, meskipun belum semuanya bisa aku terapkan. Tapi paling tidak, pekerjaan ini tidak berfungsi bila harus disebut sebagai shock therapy. Sejauh ini aku masih menikmati, ada banyak hal yang mau aku pelajari karena sudah tercebur di sini.

Lingkungannya biasa saja, seperti tempat lain pada umumnya. Ada yang langsung bisa klik, ada yang bahkan aku sama sekali belum pernah bertegur sapa. Ah, tapi siapa peduli?! Aku mengerjakan pekerjaanku saja dengan baik, berusaha datang tepat waktu yang “office hour”, dan sesekali harus sampai jam 9 malam di kantor.

Paling tidak aku jauh, jauh, dan jauh lebih baik. Di sini aku menjadi banyak bersyukur, meskipun bukan berarti aku tidak pernah bersyukur. Aku tadi terenyuh melihat bapak petugas foto copy. Sudah beruban, berurusan dengan mesin foto copy dari pagi sampai petang, tak banyak yang mengajaknya mengobrol, dan dia sama diamnya dengan mesin itu.

Kadang aku ingin mengajaknya mengobrol. Tapi karena posisinya yang paling pojok, dan aku juga paling pojok, jadi sulit bagiku melibatkan diri dengan si bapak. Semoga dia bahagia di rumahnya, bercakap dengan istri dan anak-anaknya dengan bahagia, dan semoga dia mendapat upah yang layak di sini, untuk pekerjaannya yang boleh aku katakan amat sangat membosankan.

Selamat datang kembali di dunia kerja!

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *