Dua Puluh Satu Tahun

TERIK matahari muncul malu-malu tengah hari kemarin. Rumput hijau sudah dipangkas rendah. Tanah masih basah karena hari-hari hujan yang datang kembali saat musim seharusnya kemarau. Tak ada yang tahu rahasia alam? Siapa yang tahu kuasa-Nya? Atau mungkin musim ini juga akibat ulah manusia yang akibatkan cuaca ekstrim. Entahlah.

Angin sejuk melambaikan daun di atas pohon-pohon besar. Semut kecil berjalan pelan dalam deretan panjang yang teratur. Kakiku berada tidak jauh dari rombongan binatang kecil itu. Sambil aku dengar ibuku mulai bersenandung membaca ayat-Nya. Mendoakan anaknya yang berpulang menghadap Tuhannya di usia dua puluh satu tahun. Usia yang masih belia.

Makam

Di beberapa makam terlihat taburan kembang berbagai warna, botol air mawar juga tergeletak sembarang akibat pengunjung makam yang tidak bertanggung jawab membuang sampah tidak pada tempatnya. Plastik putih pembungkus kembang bertebaran terbawa angin. Bahkan almarhum/almarhumah yang mereka sambangi pun masih harus melihat peristirahatan terakhirnya dikotori oleh saudara sendiri. Sungguh terlalu warga ini.

Ibuku mulai menyiram tanah di atas makam dengan air biasa, tanpa wangi mawar. Pemilik makam itu dulu pernah berujar kepadaku, “Jangan taburin bunga di makam orang meninggal, itu gak perlu. Air mawar itu juga gak perlu.” Ingatanku sangat lekat dengan pernyataan itu yang saat itu hanya manggut-manggut setuju. Tapi dia suka anggrek, jadi aku sematkan anggrek di dekat batu nisan yang kami pesan dengan perasaan paling menyedihkan hingga kini.

Seorang tukang batu nisan di pertigaan Taman Makam Pahlawan Kalibata pada Sabtu siang 13 September2008 kedatangan tamu. Si tamu terlalu lemah untuk banyak bicara. Hanya satu dua kalimat terlontar menyebutkan nama pemilik nisan, nama ayah, tanggal lahir, dan tanggal kepergian, lima bulan setelah dia menginjak usia dua puluh satu. Dan sejak hari itu, aku, kami, masih menyebut namanya dalam cerita-cerita kenangan, dalam doa-doa kepada Sang Khaliq, dan dalam setiap kesempatan, dalam infaq dan sedekah atas namanya.

Aku masih ingin mendengar namanya disebut siapa saja. Tentang cerita-cerita lucu selama dua puluh satu tahun usianya. Cerita dari siapa saja yang aku tidak tahu. Atau cerita apa sajalah tentang keberadaannya di sekitarnya.

“Tolong dijagain ya, Mas,” ibuku berkata pelan sambil menjejalkan sejumlah rupiah kepada penjaga makam.

“Ibu, Bu. Lilis kan?” si penjaga makam berusia sekitar 38-42 tahun itu tersenyum.

“Iya, terima kasihya.”

“Makasih banyak ya, Bang,” aku mendengar suaraku sendiri.

Hanya itu yang bisa kami lakukan untuk terus mendengar namanya. Mengunjungi makamnya yang berarti membuat penjaga makam mengingatnya meskipun belum pernah bertemu semasa dia hidup. Mengurus dan merawat makamnya, dan menyisipkan doa semoga Sang Pencipta menempatkannya di surga-Nya.

***

Ramadhan datang lagi. Ramadhan tahun keenam tanpanya. Kehidupan almarhumah bersama-Nya pasti lebih baik

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *