Beruntunglah yang Tak Pernah Dilahirkan

–Selasa, 26 Juni 2007—

Pesimistis tengah menjalar di seluruh ruang hati dan pikiranku. Aku tahu kenapa hingga aku jatuh seperti ini. Kalau Soe Hok Gie pernah mengutip bahwa yang paling beruntung adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan, aku sedikit membenarkan jika melihat satu sisi kehidupan yang memuakkan. Orang kaya memang penguasa. Pemiliki modal bisa berbuat sekehendak hati mereka. Tak peduli kelakuan mereka telah menginjak hak manusia yang berarti sama saja tidak memanusiakan manusia!!!

Tahu apa mereka tentang kesengsaraan jika mereka tidak merasakan sendiri! Atau paling tidak mereka pernah menengok langsung ke bawah. Bukan untuk gengsi atau sebuah privilege, melainkan memang merasa tersentuh atas nasib rakyat yang semakin miskin dan bodoh. Miskin karena yang kaya semakin makmur dan yang miskin tetap saja diperas. Bodoh karena biaya pendidikan tak kunjung mampu dijangkau oleh lapisan masyarakat mayoritas di Tanah Air. Miskin materi dan miskin pengetahuan (pendidikan), lengkap sudah derita mereka.

Orang kaya dan pemiliki modal itu menjelma dalam berbagai bentuk dan rupa. Di semua posisi yang bisa mereka kuasai dan semakin puas melahap ketidakberdayaan “buruh” yang dihidupi oleh kekuasaan mereka. Kalau media massa mengaku sebagai penampung aspirasi masyarakat dan berusaha membantu kaum yang lemah, tapi kenyataannya pers masih dibiayai oleh si empunya modal. Jika tak sanggup membiayai kebutuhan media, matilah Si Penyambung Lidah rakyat itu. Setelah mati, timbul masalah baru lagi: pengangguran semakin bertambah!!!

“Jadi, patuh-patuhlah padaku jika kau masih mau bertahan hidup.” Demikian kaum kapital itu menyeringai tanpa ampun terhadap siapapun yang masih ingin menyambung nyawa. Media massa beserta awak redaksi berteriak menyeru pada siapa saja untuk mengangkat kaum yang lemah, tapi bersamaan dengan itu, mereka pun menginjak kaum papa. Mereka (media) pun hidup di bawah sokongan kaum kapital, bagaimana mereka bisa memperhatikan kaum buruh sementara mereka juga buruh???

Lihat saja aksi memperingati Hari Buruh Sedunia, Selasa, 1 Mei 2007. Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga ikut menggelar aksi meminta kenaikan upah. Bisa anda bayangkan, wartawan yang bekerja demi memberi pengetahuan dan pemahaman serta sebagai salah satu pilar mencerdaskan bangsa harus meminta untuk diperhatikan. Jurnalis yang katanya harus memperhatikan rakyat justru bisa dibungkam oleh pemilik modal. Bahkan secara tidak langsung mereka juga membungkam lidah orang-orang yang seharusnya mereka ayomi.

Tidak semua memang! Ketamakan atas kemilau materi yang menggiurkan memang menjadi dalang utama penyebab lingkaran setan ini. Pemiliki modal mempekerjakan buruh (termasuk wartawan), wartawan menyuguhkan bacaan yang diinginkan masyarakat (menurut pemodal), dan pemodal melihat apa keinginan masyarakat atas dagangannya. Namun lingkaran setan ini secara sadar dan tidak sadar (kasihan!) telah terbentuk hingga kini.

Kemiskinan dan kebodohan telah menjadi sahabat sejati bagian terbesar masyarakat Indonesia. Sementara yang bergelimang kecerdasan dan kekayaan telah duduk dengan nyaman tanpa merasa perlu menengok pada manusia lain yang tak jarang mati kelaparan. Mereka yang cerdas adalah mereka yang lebih banyak picik! Mereguk kenikmatan sendiri dan berbicara atas nama rakyat padahal rakyat di sana tak merasa telah ditampung aspirasinya. Media hanya inginkan yang sensasional, penuh dengan keibaan, dan berusaha menarik perhatian sebagian masyarakat lain yang memang punya hati nurani tapi terlalu takut untuk berkata dan bertindak.

Mereka yang cerdas dan berani adalah mereka yang membunuh kaum miskin dan orang bodoh secara perlahan. Di tempat yang lain, mereka yang cerdas dan memiliki ketulusan, mengumpat di balik ketakutan dan rasa aman mereka. Prinsip hidup cari aman telah merasuki tulang rusuk mereka. Terlalu lemah. Tak berani mengatakan kebenaran adalah orang yang paling berpeluang menghancurkan tatanan moral kemanusiaan. Mereka mampu berpikir, tapi tak mau mengaplikasikan kehebatan mereka sama dengan nihil. Bahkan mereka lebih busuk di antara pemodal yang terang-terangan membutakan masyarakat dengan mimpi-mimpi kemewahan materi. (aku)

Shares 0

0 responses

  1. Sangat asing jika kita melihat dengan sebenar-benarnya keadaan yang menentramkan bagi kehidupan sang buruh.Setidaknya hanya beberapa persen saja yang merasa nyaman,itupun dalam kondisi yang rata-rata.Dalam arti keadaan itu dibuat seikhlas-ikhlasnya(‘dengan menengok yang lebih rendah lagi’).Nah,yang menjadi pertanyaannya,kepada siapakah keadaan ini bisa dilaporkan,sehingga para kapitalis itu bisa ditindak secara langsung?Mengingat kita tak mungkin bisa berbuat apa-apa!

    • Pertanyaan bagus dan membingungkan. Ya, kepada siapa masalah ini harus dilaporkan. Lewat pemerintah, rasanya aku akan membuat beberapa persoalan yg perlu diperhatikan, smg bisa ada jalan keluar :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *