Bukan Pernikahan “Biasa”

JELAS bahwa orang-orang Indonesia pada umumnya senang sekali sibuk untuk tahu, ikut campur, dan bahkan mengurusi urursan orang lain. Apalagi soal pernikahan. Aku sering sekali mendapati diriku, kakakku, sahabatku, rekan kerjaku ditanyai tentang, “Kapan nikah?” atau “Kok adiknya duluan yang nikah?” dan lagi “Si ini sudah punya pasangan, elo mana?”

Helloooo! Menikah itu urusan yang amat sangat pribadi. Amat sangat tidak pantas kalau siapapun kalian, yang keluarga bukan, sahabat bukan, bisa dengan lancang menanyakan hal itu. Keluarga sekalipun kalau tidak akrab dalam keseharian, rasanya pun sangat terlarang untuk mau tahu urusan kita.

Kebanyakan orang Indonesia, termasuk yang beragama Islam bahkan berjilbab lebar, selain lancang juga senang sekali melangkahi Tuhan. Padahal mereka tahu persis urusan hidup, mati, jodoh, dan rezeki itu di tangan Allah. Tapi kebanyakan mereka sering kali masih berani untuk menunda atau mendahului kuasa Tuhan. Kalau kita percaya bahwa keempat hal itu adalah kuasa Allah, ketika memang jodoh itu datang ya menikahlah.

Secara etika dan agama, tentu restu dari orang tua dan orang yang lebih tua harus kita minta. Beberapa tahun lalu, temanku terpaksa menunda pernikahannya karena kakaknya belum menikah dan menolak dilangkahi. Padahal saat adiknya meninggal lebih dulu boleh. Ah, budaya apalagi ini? Padahal kakaknya yang berjilbab lebar itu tahu persis kuasa Tuhannya, dia juga mengaku sangat dekat dengan Tuhan.

Setelah selesai perkara itu, orang-orang Indonesia pada umumnya akan memaksa diri mereka berhadapan dengan persiapan pernikahan yang sangat merepotkan dan sama sekali jauh dari substansi. Aku ingat cerita kakakku tentang temannya yang hampir batal menikah hanya karena tidak ada biaya untuk menikah di Hotel Bidakara. Jadi si orang tua perempuan meminta kepada calon suami anaknya agar menyiapkan uang untuk biaya resepsi pernikahan di Hotel Bidakara. Lalu si calon suami bilang kepada calon mertuanya, “Saya kembalikan aja anak Bapak. Saya gak punya uang kalau segitu banyak, Pak.”

Ah, budaya apalagi ini? Ada lagi cerita lain bahwa si calon pengantin itu sampai masuk rumah sakit beberapa hari sebelum hari pernikahan mereka karena terlalu lelah mengikuti keinginan keluarga yang harus ini, harus itu, mau ini, mau itu, harus begini, harus begitu hanya karena tidak enak dipergunjingkan orang saat hari pelaksanaan. Ya Tuhanku, adat apalagi ini?

Aku beruntung karena sejak dulu aku tidak pernah hidup di atas penilaian orang lain tentang hal-hal yang aku lakukan. Aku tahu batas, aku tahu mana yang sopan dan tidak, aku tahu etika, dan cukup tahu diri tentang bagimana memperlakukan tamu di acara pernikahanku.

Ada proposal senilai Rp 110 juta yang harus aku bayar jika aku ingin pernikahanku berjalan lancar. Ih, tapi uang sebanyak itu lebih suka aku gunakan untuk membayar DP rumah atau mengurangi cicilan rumah tiap bulan. Orang bilang, menikah itu mahal hingga ratusan juta karena kita harus memuaskan tamu. Helllooooo! Menurutku, itu sama sekali bukan memuaskan tamu, tetapi memuaskan diri sendiri. Menahan keinginan diri sendiri itu yang sulit. Dan menguasai diri sendiri untuk tidak terpengaruh omongan orang lain selama yang kita lakukan adalah kebaikan, itu yang sulit.

Contoh kecil, orang-orang bilang, kalau menikah di aula atau gedung (bukan di rumah) harus tampil mewah. Salah satunya yaitu si mempelai wanita harus memakai hena. Hah? Hena? Apa tuh? Dan aku dengan tegas katakan, aku tidak perlu hena. Toh pernikahanku tetap berjalan tanpa hena menghiasi tanganku. Orang bilang harus menggunakan jasa wedding organizer dan wedding planner jika kedua calon pengantin sama-sama bekerja. Oh tidak. Aku sama sekali tidak membayar jasa untuk WO ataupun planner, karena aku bisa mengurus sendiri kebutuhanku.

Proposal senilai Rp 110 juta itu lalu melorot menjadi Rp 64 juta. Aku, tentu saja bersama kekasihku, mencari sendiri apa yang kami butuhkan sesuai dengan anggaran yang kami punya. Komunikasiku hanya pada keluarga inti kami, tidak ada orang lain, apalagi penilaian orang lain. Ketika ibuku bilang oke, itu adalah restu. Ketika ibuku mengatakan harus begini atau begitu, dan aku punya pendapat berbeda, aku berusaha meyakinkan bahwa ini yang lebih baik. Aku selalu membantah persiapan pernikahan yang menghabiskan uang dan tidak substansial.

Pernikahanku bukan pernikahan “biasa” yang mengikuti gengsi dan gunjingan orang lain. Pernikahanku adalah pernikahan luar biasa yang aku tahu betul mana substansi dan mana yang hanya pemanis. Aku tahu setiap rupiah yang aku keluarkan. Karena bagiku, bukan pesta dan resepsi itu yang penting, tetapi bagaimana aku menjalani kehidupan setelahnya. Aku tidak ingin menjalani pernikahan “biasa” demi menghindari mulut berbisa orang lain dan mengikuti keinginan perempuan pada umumnya yang tanpa batas tentang kemewahan sebuah resespi pernikahan dengan alasan: menikah hanya sekali seumur hidup.

***

Terima kasih kepada Bapak, Mama, Kak Ana, Kak Ani, Putra, Ibu, Mbot, Mba Lina, Kevin, Kerin, Kesya, yang sudah menjadi keluarga yang tidak terlalu peduli dengan omongan orang tentang persiapan pernikahan. Terima kasih kepada Nurlaela Syahril Fitri sebagai Head of Wedding Organizer for free di pernikahan ini, dan bantuan dari Kaka Ti. Untuk Kak Wilda sebagai MC wedding amatir. Dan seluruh among tamu, gadis ampao, serta pagar ayu dan bagus yang total seluruhnya 24 orang.

Terima kasih tak terhingga juga kepada keluarga, sahabat, bos dan mantan bos, dosen, kawan, rekan kerja,  yang sudah menyempatkan hadir dan memberi doa restu. Mohon maaf jika ada rasa makanan yang kurang enak dan sikap yang mengecewakan. Juga kepada mereka yang tidak sempat hadir tapi tetap menyisipkan doa untuk kami. Yang tidak sempat kami undang karena human error, skip, dan lainnya kami ucapkan terima kasih dan maaf, mohon doanya.

Terima kasih kepada para vendor yang telah mendukung yaitu:

– Pengurus Masjid dan Aula Masjid Nurul Badar untuk segala kerendahan hati mau meladeni nego harga yang gila-gilaan

– Diamond Catering untuk buffet yang enak dengan affordable price

– Gubukan dari tukang nasi liwet, tukang serabi solo, tukang es doger, tukang bakso, tukang siomay, dan tukang sate kambing yang jualan di sekitar Pengadegan untuk rasa yang tidak mengecewakan

– Sanggar Rias Tini Yunianto yang kasih harga paket busana dan rias cantik ramah kantong, termasuk 4 pasang pagar ayu dan bagus, 4 orang gadis ampao, dan 6 pasang among tamu

– Lulu Florist di Pasar Bunga Rawa Belong untuk dekorasi sederhana yang sesuai budget

– Budhi Wiro Utomo & Team untuk foto dan video shooting atas nama pertemanan

– Pasar Tenabang untuk souvenir dan seragam batik para penjaga gubukan

– Head of Printing Wedding Inivitation aka Abang Fathur untuk cetak undangan di kawasan Ciputat yang paling murah setanah air

– Design undangan keren dan unik dari Mas Kentung

– Pengulu dari KUA Kecamatan Pasar Minggu

Jakarta, 29  September 2013

0 Shares

3 responses

  1. Barokallahulaka wa baroka alaika wajama’a bainakuma fii khoiri.. Semoga Allah menjadikan pernikahan kandi dan suami menjadi pernikahan yg sakinah, mawaddah wa rahmah..

    Mohon maaf tidak dpt hadir, namun doa tulus nan terbaik ttp terpanjatkan untuk kalian berdua,

    Sekali lagi, Selamat.

    Arif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *