April Tanpa Cerita

Selepas isya rumahku makin penuh sesak. Salah seorang yang terlihat bertandang adalah sahabatku, Teguh Robiyanto namanya. Aku memanggilnya Tghe, seperti teman dia yang lain. Sebaliknya, dia tidak menyapaku dengan Kandi sebagaimana teman lain menyebutku. Panggilan untukku darinya berbeda dan cenderung aneh, seaneh dan seunik kelakuannya. Tapi jangan tanya soal ketulusan dan loyalitas persahabatan yang sampai kini masih sering membuatku terenyuh jika mengingatnya.

Aku berdiri mematung ketika melihatnya datang bersama kekasihnya ke rumah. Kekasih yang dia larang untuk berteman denganku karena menurutnya, cuma dia yang berhak menjadi sahabatku. Aku tertawa setiap kali mengingat itu. Bertiga kami duduk di lantai, entah ke mana sofa yang biasa dia jadikan tempat tidur setiap kali datang. Rumahku saat itu hanya berisi tamu pelayat, sesekali cerita, dan lebih banyak air mata. Mataku sembab dan makin tak ingin bercerita apapun. Tghe dan kekasihnya juga tak bersuara. Aku pun lupa bagaimana kami menghabiskan malam itu.

Tghe bukan orang yang banyak bicara. Dia hanya banyak melihat, mendengar, dan bertindak. persis seperti sifat almarhumah yang menjadi alasan dia datang ke rumahku malam itu, 13 September 2008. Lantas dia pulang bersama kekasihnya, membiarkan aku tenggelam dengan kesedihanku. Agak malam aku menerima pesan singkatnya, “Gue gak tau mau ngomong apa tadi. Tapi yang harus lo tau, gue bisa lo telepon kapan aja dan diajak nongkrong kapan aja ya. Gue ikut nangis.”

Tghe sebenarnya hampir tidak pernah bercengkrama dengan almarhumah adikku, Lilis Rahmawati. Tapi kalau Tghe datang Lilis yang akan sibuk mengingatkan, “Ada temen lo tuh, Kak. Jangan lupa kasih minum temennya.” Nanti di kamar, Lilis akan seksama mendengar cerita tentang apa yang aku kerjakan dengan Tghe, kenapa Tghe tak suka aku sibuk di kampus, apa masalah yang sedang aku hadapi di kampus, kenapa kartu hasil studiku ditahan, kenapa aku harus demonstrasi soal biaya semester pendek (SP) padahal dia tahu betul aku tak butuh SP, dan lainnya, dan sebagainya.

Tapi mulai malam itu, tak ada lagi yang secara rinci mendengar cerita tak pentingku, tidak ada lagi yang sekadar memijat lengan kurusku, tak ada lagi adik perempuan yang sangat loyal dan tulus. “Kalo ceritanya ke gue aja mulai sekarang, gak mau ya?” itu suara Tghe ketika kami akhirnya bertemu beberapa waktu setelah pemakaman.

“Bukan soal mau atau gak, tapi ade gue gak pernah sinis soal aktivitas gue di kampus. GAK KAYAK ELO!”

Wajah Tghe tetap tanpa ekspresi, tanpa senyum, dan tak peduli. Tapi jauh di dalam pikiran dan tindakannya, yang dia tunjukkan adalah lebih dari kepedulian. Seperti saat itu, April 2009. Bulan April pertama setelah Lilis pergi. Perayaan ulang tahun paling menyedihkan karena yang berulang tahun telah dipanggil kembali ke pangkuan-Nya. Meski tak pernah ada lilin atau pun kue tart, tetapi 4 April selalu menjadi hari yang spesial. Doa-doa khusus dipanjatkan setiap tahun, dan doa yang lebih khusus lagi aku minta setelah kepergian Lilis.

Woiy,masih di kantor? Balik jam berapa?” itu isi pesan singkat Tghe

Bebasss,” jawabku singkat.

Gue jemput? Di mana?” balasnya.

Emang lo mau denger cerita apa? Gue gak punya cerita apa-apa hari ini,” aku membalas.

Kalo udah kelar urusan gak penting lo hari ini, sms lah,” Kalau sudah begitu, yang sudah-sudah aku tidak mungkin tidak pulang diantar Tghe. Tujuannya dua: cerita atau sekadar diam.

Kami makan di pinggir jalan dan mataku mulai basah dengan kenangan akan hari ulang tahun Lilis yang telah aku lalui dengan penuh duka. Hanya aku saja yang bersuara diiringi tatapan lekat Tghe. Menghitung mundur waktu dan mendengar sejumlah penyesalanku. Tidak berusaha menenangkan, tak membantah, tidak mengiyakan. Hanya diam dengan wajah yang ikut merasai kepiluan. Percakapan menyedihkan itu berakhir ketika aku meminta agar kami segera beranjak.

Dalam perjalanan pulang di atas motor berkecepatan 40 km/jam aku juga tak bersuara. Hanya Tghe yang secara berkala berteriak dari balik helm, “Woiy, jangan bengong ya….” Setibanya kami di depan rumahku Tghe berujar, “Jangan lupa ya kalo lo bisa nelepon gue jam berapa pun dan minta gue jemput di mana pun.

Tahun 2009 itu adalah yang pertama dan sekaligus terakhir kalinya Tghe menemaniku melewati 4 April. Karena beberapa bulan setelahnya Tghe juga dipanggil Sang Pencipta. Menemui Tuhannya, berada dalam dunia dan waktu yang sama dengan Lilis. Dua orang dengan bulan lahir yang sama, dengan loyalitas dan ketulusan yang sama, yang dikirimkan Tuhan untuk mengajariku bersyukur bahwa aku pernah sangat dekat dan menerima kebaikan mereka.

**

“Ya Allah, ini tahun keenam 4 April tanpa Lilis. Ghe, bilang Lilis, maaf gue gak punya cerita apa-apa hari ini tentang dia. Gue cuma mau ucapin selamat ulang tahun buat dia. Gue kirim doa yang banyak di hari spesial dia. Buat gue 4 April masih jadi hari spesial, meski pun buat kalian berdua waktu mungkin bukan lagi hal penting. Doa adalah yang terpenting, dan gue akan terus mengingat kalian dalam doa gue.”

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *