Welcome Back, April
Welcome back, April! Happy birthday to you May Allah bless you in Heaven For you my dearest sister, Lilis Rahmawati 4 April 1987-13 September 2008
Continue reading →
Welcome back, April! Happy birthday to you May Allah bless you in Heaven For you my dearest sister, Lilis Rahmawati 4 April 1987-13 September 2008
Continue reading →
Akhirnya gajian lagi. Setelah lima bulan aku berkutat dengan diriku sendiri dengan segudang tugas kuliah, setumpuk masalah sentimentil tentang perasaan, keluarga maupun teman. Juga ada kesibukan sebagai “wanita kurir” karena iseng-iseng ingin memulai bisnis dengan modal cekak. Kalau untuk kantong mahasiswi, lumayanlah. Minimal tidak perlu membongkar tabungan yang juga ala kadarnya, tidak perlu juga sering-sering […]
Continue reading →
Siang bolong khas Ramadan. Tak sampai 10 menit setelah aku dan adikku pamit kepada mamaku. Aku pamit untuk berangkat kerja dan adikku pamit untuk mengantarku ke stasiun dengan motor kesayangannya. Tapi apa yang terjadi dalam waktu yang relatif singkat itu? Adikku yang berangkat dalam keadaan sehat walafiat dan segar bugar, jatuh dari motor. Bermandikan darah. […]
Continue reading →
Aku membongkar-bongkar ingatanku tentang masa lalu. Mencoba menerobos ke ruang dan waktu saat masih menghabiskan waktu di kampus, 2002-2006. Mengetuk dan meraba pikiranku untuk memastikan apa yang tertinggal di sana tentang seseorang yang kini telah mencapai cita tertingginya: bertemu Tuhannya. Sayang, aku justru tak mengingat apa-apa kecuali suaranya yang rendah jika berbicara dan tertawa, sikapnya […]
Continue reading →
Apa yang akan membawaku pada ingatan tentang adik adalah sebuah motor dan kecelakaan. Sebuah kepala yang pecah berantakan dan darah yang mengalir dari semua bagian kepala. Dan sebuah baju berwarna oranye pemberian teman. Apa yang akan mengantarku tentang ingatan seorang adik adalah tentang sebuah pertandingan bulu tangkis. Sebuah harapan yang tak pernah terealisasi untuk menyaksikan […]
Continue reading →
Langit terang khas Ramadhan. Warna pagi juga begitu cerah ketika aku melihatnya bangun dari tidur sekira pukul 9. Aku sedang duduk di depan komputer pentium tiga yang dibeli mama untuk keperluan skripsiku. Baris-baris kalimat untuk resensi novel yang aku baca dalam satu minggu sudah memenuhi layar komputer. Aku masih membacanya berkali-kali, mengedit, dan menyimpannya ketika […]
Continue reading →