Getir dalam Hujan

LANGIT tiba-tiba kembali mengguyur bumi. Aku tergesa mengambil langkah seribu, mencari tempat berteduh. Atap toko bunga yang sudah tutup menghalangi tubuhku dari guyuran hujan, hanya semenit setelah aku melangkah keluar kantor. Ini hari pertama puasaku, dan hari kesekian kerinduanku pada adikku.

Hujan makin deras. Dan aku memutuskan untuk menelepon. Rintik itu tetap deras dan aku berlari menutupi kepala dengan tas kerja pemberian ibuku. Agak basah ketika sampai di tempat yang lebih nyaman, jauh dari siraman tampias hujan. Aku berjalan cepat melewati toko-toko di pasar yang sudah tutup lalu berhenti di sebelah ATM. Berdiri mematung dan menerima sms.

Adzan Magrib terdengar cukup tegas di mesjid samping Pasar Santa. Hujan masih di sana. Ada getir yang muncul seketika setelah membaca pesan singkat itu. Ah, kenapa begitu sulit untuk berempati? Apa susahnya? Dan aku kembali menerabas hujan beberapa menit kemudian. Menghampiri warung rokok, membeli minuman botol. Termangu sebentar, dan kembali menyelinap di antara rintik yang masih deras.

Jalanan ramai, petir mengilat menyambar di atas langit gelap. Aku menunggu lalu berjalan lagi, dan menunggu lagi menyeka wajah yang basah. Pesan singkat beberapa kali berbalas dan aku merasa enggan untuk meneruskan. Kopaja itu kosong dan aku menghambur masuk ke dalamnya. Mengabaikan telepon dan memikirkan ketidakpedulian yang baru saja terjadi.

Shares 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *